Relawan Gibran Sayangkan Komika Panji Serang Fisik Wapres, H Bisri : Kritik Kebijakannya, Jangan Serang Fisik

Bisri Robis
H Bisri ketika bersama Gibran dalam satu acara Foto: dok pribadi
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Di ruang publik Indonesia, kritik sering kali tampil seperti pisau dapur: bisa dipakai memasak, bisa pula melukai.

Di titik inilah, menurut tokoh masyarakat Cirebon Mohamad Bisri Robis, demokrasi mulai tampak retak, bukan karena kritiknya, melainkan karena caranya.

H Bisri Robis, yang juga dikenal sebagai relawan pasangan Prabowo–Gibran pada Pilpres 2024, menegaskan bahwa kritik terhadap pemimpin adalah keniscayaan dalam sistem demokrasi. Ia tidak alergi kritik, bahkan menganggapnya sebagai vitamin politik. Namun, ada garis tipis yang kerap diabaikan: saat kritik berhenti membahas kebijakan dan mulai menguliti fisik.

Baca Juga:Diplomasi Generasi Baru: Gibran Mewakili Indonesia di KTT G20 Afrika SelatanGibran Temui Murid Sekolah Rakyat Cirebon – Video

“Kalau kritik itu sah-sah saja, bahkan bisa jadi masukan. Tapi kalau sudah menyerang fisik, itu bukan lagi kritik sehat. Demokrasi jadi tidak sehat,” ujar Bisri.

Dalam pandangan Bisri, sebagian kritik terhadap Gibran memang substantif. Namun, tak sedikit pula yang melenceng, menjadikan tubuh dan rupa sebagai sasaran empuk, seolah kebijakan negara bisa dinilai dari tinggi badan atau ekspresi wajah.

Ia menyinggung kasus Panji, yang sempat berurusan dengan aparat hukum setelah melontarkan komentar yang dianggap menghina fisik Wakil Presiden. Bagi Bisri, kasus itu menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi bukan tiket bebas menghina.

“Kalau sekadar mengingatkan, itu wajar. Tapi kalau sudah menyerang pribadi, apalagi fisik, ya kebablasan,” tegasnya.

Bisri mengajak publik menengok ke belakang, ke masa Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid. Gus Dur, dengan segala keterbatasan fisiknya, kerap menjadi sasaran olok-olok. Bukan karena kebijakannya, tapi karena tubuhnya.

Hasilnya bisa ditebak: amarah pendukung, polarisasi, dan demokrasi yang panas oleh ejekan, bukan oleh gagasan.

“Itu wajar, karena menyerang fisik memang tidak bisa diterima,” katanya singkat, namun cukup untuk menutup ruang tafsir.

Baca Juga:Xabi Alonso Dipecat Usai Real Madrid Kalah Dari Barcelona di Final, Arbeloa Jadi PenggantiKlasemen Terkini BRI Super League! Persib Bandung Juara Paruh Musim

Dalam lanskap demokrasi yang semakin bising oleh media sosial, Bisri mengingatkan bahwa kritik seharusnya diarahkan ke meja kerja, bukan ke cermin. Demokrasi, katanya, tidak membutuhkan ejekan untuk tumbuh, ia butuh argumen.

“Kritik boleh, bahkan perlu. Tapi jangan sampai jadi hinaan fisik. Demokrasi kita harus tetap sehat,” pungkasnya.

0 Komentar