Darurat Lini Depan! Persebaya Kehilangan Bomber Lokal, Bernardo Tavares Terjebak Ketergantungan Striker Asing

Bernardo Tavares
ig @bocahbolaid
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Persebaya Surabaya tengah berada dalam situasi yang tidak ideal menjelang padatnya persaingan Super League 2025/2026. Tanpa banyak sorotan, Green Force kini menghadapi krisis serius di lini depan setelah resmi kehilangan seluruh stok striker lokalnya.

Kepergian Rizky Dwi Pangestu menjadi titik balik yang mengkhawatirkan. Penyerang asal Banyuwangi itu resmi hijrah ke Garudayaksa FC, sekaligus mengakhiri perannya sebagai satu-satunya striker lokal di skuad utama Persebaya. Dampaknya langsung terasa: Bernardo Tavares kini hanya memiliki tiga penyerang murni, dan semuanya berstatus pemain asing.

Rizky Dwi Pangestu memang bukan striker utama. Namun, kehadirannya selama ini menjadi penyangga penting dalam rotasi tim. Bergabung sejak Juli 2024, pemain berusia 26 tahun itu mencatatkan 22 penampilan dengan total 713 menit bermain. Meski hanya mencetak satu gol, statusnya sebagai striker lokal memberi fleksibilitas taktis dan kedalaman skuad, sesuatu yang kini benar-benar hilang dari Persebaya.

Baca Juga:Mengenal Cesar Meylan, Otak Fisik di Balik John Herdman: Dalang Revolusi Performa Timnas IndonesiaJohn Herdman Didesak Naturalisasi 5 Pemain Keturunan, Ada Kapten Timnas Jerman U-20!

Tanpa Rizky, opsi di lini depan Green Force menyempit drastis. Mihailo Perovic menjadi tumpuan utama. Striker asal Montenegro berusia 28 tahun ini sudah tampil 16 kali dengan torehan tiga gol. Ia paling sering dipercaya, namun produktivitasnya masih jauh dari kata ideal untuk klub dengan ambisi besar seperti Persebaya.

Nama kedua adalah Diego Mauricio. Penyerang Brasil berusia 34 tahun itu baru mengoleksi tujuh penampilan dengan menit bermain yang sangat terbatas. Faktor usia dan kebugaran menjadi tantangan besar bagi Diego untuk tampil konsisten sepanjang musim.

Sementara itu, Dejan Tumbas justru menjadi opsi paling problematik. Meski berlabel striker, pemain asal Serbia tersebut lebih sering dimainkan sebagai bek kiri, bahkan sempat turun sebagai gelandang bertahan. Dari 14 laga yang dijalani, perannya sebagai penyerang nyaris tak terlihat.

Kondisi ini menempatkan Bernardo Tavares dalam posisi sulit. Ketergantungan total pada striker asing menyimpan risiko besar, mulai dari cedera, akumulasi kartu, hingga adaptasi permainan. Absennya striker lokal juga membuat Persebaya kehilangan fleksibilitas saat harus memutar pemain di tengah jadwal padat.

Jika tak segera diantisipasi, krisis ini bisa berdampak langsung pada performa tim. Promosi pemain muda atau perekrutan striker lokal baru menjadi opsi yang tak bisa lagi ditunda. Jika tidak, Persebaya Surabaya berpotensi membayar mahal keputusan ini sepanjang musim berjalan.

0 Komentar