RADARCIREBON.TV – Malam yang seharusnya menjadi lembar pertama sebuah era baru justru berubah menjadi luka yang langsung menganga. Álvaro Arbeloa, putra kandung Bernabéu, menjalani debutnya sebagai pelatih kepala Real Madrid dengan cara paling pahit: tersingkir, dipatahkan, dan dipermalukan oleh Albacete. Klub Segunda Division itu menampar ego raksasa Spanyol dengan kemenangan 3-2 yang akan lama membekas sebagai trauma.
Copa del Rey, turnamen yang kerap dijadikan pelarian ketika liga terasa berat, mendadak menjadi pengadilan terbuka. Di sanalah Arbeloa diuji dan gagal sebelum sempat benar-benar memulai. Dua hari setelah menggantikan Xabi Alonso, ia harus menelan kenyataan bahwa nama besar, sejarah, dan aura Madrid tak selalu cukup untuk menundukkan keberanian tim kecil yang lapar.
Arbeloa memilih berjudi. Rotasi besar dilakukan. Mbappé, Bellingham, Courtois, Rodrygo disimpan. Seolah Madrid terlalu besar untuk takut pada Albacete. Keputusan itu kini terasa seperti pengakuan ego dan sepak bola, seperti biasa, menghukum kesombongan dengan kejam.
Baca Juga:Liverpool Goda Real Madrid dengan Tawaran Fantastis Rp25 Triliun demi Jude BellinghamNasib Xabi Alonso, Moncer di Bayern Leverkusen, Memble Di Real Madrid
Sejak menit awal, Madrid tampak asing di tubuhnya sendiri. Vinícius Júnior berlari tanpa tujuan jelas, lini tengah kehilangan ritme, dan pertahanan terlihat rapuh. Albacete bermain tanpa beban, penuh keyakinan, seolah tahu malam itu mereka bukan sekadar penggembira. Gol sundulan Javier Villar di menit ke-42 menjadi peringatan pertama: Madrid bisa dilukai.
Madrid sempat membalas lewat Franco Mastantuono di masa tambahan babak pertama. Gol itu seperti napas buatan menjaga jantung tetap berdetak, tapi tak pernah benar-benar memulihkan. Babak kedua justru memperlihatkan kerapuhan yang lebih telanjang. Betancor muncul sebagai algojo, memanfaatkan kegagalan Madrid membersihkan bola di menit ke-82. Bernabéu versi tandang itu membeku.
Ketika Gonzalo García menyamakan skor di menit akhir, harapan kembali muncul tipis, rapuh, tapi hidup. Namun harapan itu tak diberi waktu untuk bernapas. Empat menit injury time berjalan, dan Jefté Betancor kembali datang. Golnya seperti palu terakhir, menghantam kepala Madrid yang sudah retak. Luluh lantak. Hancur. Tak bersisa.
