Bagi Arbeloa, ini bukan sekadar kekalahan. Ini kenangan pahit yang akan terus diputar ulang. Ia berdiri di pinggir lapangan dengan wajah yang menyimpan seribu penyesalan seorang Madridista sejati yang baru saja menyakiti rumahnya sendiri. “Tanggung jawab sepenuhnya ada pada saya,” katanya. Kalimat jujur, tapi tak menghapus amarah publik Bernabéu.
Di Madrid, kekalahan bukan hanya soal skor. Ia adalah cermin yang memantulkan ego, keputusan, dan harga diri. Arbeloa kini belajar dengan cara paling kejam: sejarah tidak memberi diskon pada anak sendiri. Nama besar hanya berarti apa-apa jika diiringi hasil.
Sementara Albacete merayakan malam terindah mereka, Madrid pulang dengan kepala tertunduk. Copa del Rey pun menjadi kuburan mimpi pertama era Arbeloa pahit, keras, dan penuh trauma. Sebuah debut yang tak akan pernah ingin ia ulangi.
