RADARCIREBON.TV – Real Madrid dan Awal 2026 yang Kelam: Dua Gelar Hilang, Krisis Identitas Menganga, awal tahun 2026 berubah menjadi mimpi buruk bagi Real Madrid.
Klub yang selama lebih dari satu abad hidup dari kemenangan dan kejayaan kini dipaksa menelan kenyataan pahit: dua gelar lenyap hanya dalam hitungan hari. Kekalahan demi kekalahan bukan sekadar hasil buruk, melainkan alarm keras bahwa sesuatu sedang rusak di jantung Santiago Bernabéu.
Tersingkirnya Madrid dari Copa del Rey menjadi simbol paling telanjang dari krisis tersebut. Bukan hanya karena kalah, tetapi karena cara kalahnya. Disingkirkan Albacete tim Segunda División di Stadion Carlos Belmonte adalah noda besar dalam sejarah klub raksasa Eropa. Kabut yang menyelimuti stadion di awal laga seakan menjadi metafora sempurna: ketika kabut itu menghilang, yang tersisa hanyalah permainan memalukan tanpa karakter, tanpa jiwa juara.
Baca Juga:Real Madrid Kalah Dari Albacete Pertandingan Babak 16 Besar Copa Del Rey Skor 2-3Real Madrid Tersingkir! Daftar Tim Lolos Perempat Final Copa del Rey 2026
Kegagalan ini datang hanya beberapa hari setelah Madrid kehilangan satu trofi Supercup Spanyol, Dua gelar melayang dalam waktu tiga hari. Situasi ini nyaris tak pernah terjadi pada klub dengan DNA kompetitif sekuat Real Madrid. Krisis bukan lagi isu internal, melainkan realitas yang terpampang jelas di lapangan.
Pergantian pelatih yang dilakukan secara mendadak justru memperparah situasi. Pelatih lama pergi dengan warisan tim yang rapuh, sementara Álvaro Arbeloa yang baru 48 jam menangani skuad langsung dipaksa menanggung beban besar. Keputusan rotasi dengan memberi istirahat kepada empat pemain penting memang berisiko.
Namun, persoalannya lebih dalam dari sekadar salah strategi. Masalah Madrid bukan hanya siapa yang bermain, tetapi bagaimana mental tim runtuh ketika tekanan datang.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Real Madrid tampak seperti tim biasa. Transisi lambat, lini tengah kehilangan kontrol, pertahanan mudah ditembus, dan lini depan tumpul tanpa ide. Lebih mengkhawatirkan lagi, tak terlihat reaksi emosional khas Madrid saat tertinggal sesuatu yang dulu menjadi identitas mereka.
Kini, wacana tentang peluang menjuarai LaLiga atau Liga Champions terdengar semakin utopis. Di atas kertas, Madrid masih memiliki skuad bertabur bintang. Namun sepak bola tidak dimainkan di atas kertas. Ia dimainkan dengan intensitas, keberanian, dan keyakinan tiga hal yang saat ini justru hilang dari permainan Los Blancos.
