RADARCIREBON.TV – Peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar catatan sejarah dalam perjalanan kenabian Muhammad SAW. Ia adalah mukjizat agung yang hingga hari ini terus menyalakan optimisme, meneguhkan keyakinan, dan membangkitkan semangat umat Islam dalam menghadapi berbagai ujian zaman. Di tengah gelapnya tekanan, penolakan, dan luka batin yang dialami Rasulullah SAW, Allah SWT justru menghadiahkan sebuah perjalanan langit yang melampaui batas nalar manusia.
Isra Mi’raj terjadi pada fase paling berat dalam hidup Nabi Muhammad SAW. Setelah wafatnya Khadijah RA dan Abu Thalib, serta penolakan menyakitkan dari penduduk Thaif, Rasulullah seakan berada di titik nadir perjuangan. Namun di saat itulah, Allah SWT menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang tepat pada waktunya. Dalam satu malam, Nabi diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, lalu dinaikkan menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha.
Perjalanan kilat yang mustahil secara logika manusia itu menjadi bukti nyata kekuasaan Allah SWT. Dengan kendaraan bernama Buraq, Rasulullah SAW menempuh jarak ribuan kilometer dalam waktu singkat. Sebelum berangkat, dada Nabi dibelah oleh Malaikat Jibril AS dan dibersihkan dengan air Zamzam, menandakan persiapan spiritual sempurna untuk menerima amanah besar. Ini bukan sekadar mukjizat fisik, melainkan juga penguatan ruhani.
Baca Juga:Puasa Saat Isra Miraj, Sunnah atau Tidak? Ini Penjelasan LengkapnyaIni Dia! Doa Malam 27 Rajab Isra Miraj dan Amalan Ringan yang Bisa Diamalkan
Dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah SAW bertemu para nabi terdahulu di setiap lapisan langit. Pertemuan dengan Nabi Adam, Isa, Yusuf, Musa, dan Harun bukan hanya simbol persaudaraan para utusan Allah, tetapi juga pesan bahwa perjuangan dakwah selalu berkesinambungan. Nabi Muhammad SAW tidak berjalan sendiri; beliau berada dalam mata rantai panjang perjuangan tauhid.
Puncak Isra Mi’raj adalah saat Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu secara langsung dari Allah SWT. Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan hadiah istimewa yang menjadi tiang agama dan sumber kekuatan umat Islam. Di tengah kesibukan dan tekanan hidup, sholat adalah ruang dialog langsung antara hamba dan Tuhannya, penguat jiwa, sekaligus penenang hati.
