RADARCIREBON.TV – Masa depan Mohamed Salah kembali menjadi perbincangan hangat usai kegagalan Mesir di Piala Afrika 2025. Penyerang andalan Liverpool itu kini berada di titik krusial dalam perjalanan kariernya, di tengah kontrak yang akan berakhir pada musim panas 2027 serta faktor usia yang kian mendekati fase akhir sebagai pemain elite.
Pada usia 33 tahun, Salah masih menunjukkan performa impresif, baik bersama klub maupun tim nasional. Namun, realitas sepak bola modern membuat masa depan jangka panjangnya mulai dipertanyakan. Liverpool memasuki era baru di bawah pelatih Arne Slot, dengan filosofi permainan dan manajemen skuad yang menuntut adaptasi cepat dari para pemain senior.
Kontrak Salah yang tersisa sekitar satu setengah musim membuka berbagai spekulasi. Hingga kini, belum ada kepastian terkait perpanjangan kontrak baru. Situasi ini membuat Liverpool berada dalam dilema: mempertahankan ikon klub hingga akhir kontrak atau mempertimbangkan opsi strategis sebelum nilainya menurun.
Baca Juga:Daftar Pemain Senior yang Bisa Dipanggil Kembali John Herdman ke Timnas IndonesiaHasil Drawing Piala AFF 2026: Timnas Indonesia Masuk Grup Berat Bersama Vietnam
Di tengah ketidakpastian tersebut, Saudi Pro League muncul sebagai destinasi yang realistis. Klub-klub Timur Tengah dikenal agresif memburu pemain bintang Eropa dengan tawaran finansial yang sulit ditolak. Bagi Salah, hijrah ke Arab Saudi bukan hanya soal uang, tetapi juga kesempatan menjadi figur sentral dan ikon global liga tersebut.
Contoh terdekat adalah Sadio Mane, mantan rekan Salah di Liverpool. Mane memilih bergabung dengan Al-Nassr setelah meninggalkan Eropa dan tetap mampu tampil kompetitif. Jalur karier Mane sering dijadikan tolok ukur bahwa pemain top Afrika masih bisa bersinar di Timur Tengah tanpa kehilangan sorotan internasional.
Meski begitu, keputusan Salah diyakini sangat dipengaruhi oleh Piala Dunia 2026. Turnamen tersebut berpotensi menjadi panggung terakhirnya bersama timnas Mesir. Bermain di level kompetisi tertinggi hingga Piala Dunia diyakini tetap menjadi prioritas utama sang “Raja Mesir”.
Bertahan di Liverpool atau setidaknya di Eropa memberi keuntungan dari sisi intensitas dan kualitas pertandingan, yang penting untuk terus berada dalam kondisi terbaik untuk pertandingan internasional. Namun, jika Liverpool tak lagi menjadikan Salah sebagai pusat proyek tim, opsi hengkang bisa menjadi pilihan rasional.
