Semua beban sejarah kini berada di pundak Brahim Díaz. Hanya satu gol saja akan mengantarkan Maroko memperoleh trofi Piala Afrika pertama mereka dalam 50 tahun. Akan tetapi, apa yang terjadi justru di luar dugaan.
Alih-alih mengeksekusi penalti dengan aman, Díaz memilih melakukan Panenka. Sayangnya, eksekusi itu terlalu lemah dan mudah terbaca. Kiper Senegal, Edouard Mendy menangkap bola dengan lancar.
Stadion terdiam sejenak, kesempatan emas Maroko musnah seketika, sedangkan Senegal seolah mendapat pembenaran atas perjuangan serta protes mereka.
Baca Juga:Prediksi Liga Italia: Cremonese Siap Bidik Kemenangkan, Verona Ingin Akhiri Tren BurukPersis Solo Resmi Boyong Dua Pemain Asing Serbia, Lini Belakang Kini Lebih Kuat
Kegagalan penalti itu langsung memicu gelombang teori konspirasi di media sosial. Banyak netizen mempertanyakan keputusan Díaz melakukan Panenka di situasi sepenting itu.
Bahkan ada beberapa media yang mendiskusikan kemungkinan apakah Díaz sengaja gagal lantaran kekacauan dan tekanan berat.
Walau begitu, polemik itu sulit dibuktikan. Faktanya bahwa Díaz sendiri yang paling vokal meminta usai penalti usai dilanggar membuat teori tersebut terasa tidak masuk akal.
