kisah di Balik Tuduhan Sihir Tepisan Edouard Mendy di Final AFCON 2025: Hanya Baca Al Quran & Tawakal

edouard mendy
Edouard Mendy jadi pahlawan Senegal juara Piala AFCON 2025. Foto: Tangkapan Layar/radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Edouard Mendy tampil sebagai pahlawan Senegal dalam laga final Piala Afrika (AFCON) 2025.

Kiper berusia 33 tahun itu menjadi penentu kemenangan timnya atas Maroko setelah sukses menggagalkan penalti Brahim Diaz pada menit-menit krusial.

Namun, di balik momen heroik tersebut, tersimpan kisah penuh tekanan, intimidasi mental, hingga tudingan mistis yang mengiringi langkah sang penjaga gawang.

Baca Juga:Daftar Lengkap Pembalap MotoGP 2026 Resmi Dirilis, Musim Terakhir Era Mesin 1000 ccJadwal Penukaran Uang Baru 2026 untuk Lebaran, Ini Aturan dan Syarat dari Bank Indonesia

Final yang berlangsung dalam tensi tinggi itu tidak hanya menguji kemampuan teknis Mendy, tetapi juga keteguhan mental dan spiritualnya.

Mantan kiper Chelsea tersebut mengungkapkan bahwa sepanjang pertandingan ia menghadapi gangguan tak lazim yang mengarah pada kepercayaan takhyul.

Salah satu kejadian paling mencolok adalah soal handuk yang digunakannya di sisi gawang.

Dalam kondisi hujan, Mendy meletakkan handuk untuk mengeringkan sarung tangannya. Namun, handuk itu berkali-kali dipindahkan oleh pihak lawan.

“Handuk saya dipindahkan lima kali. Saya menggunakan handuk lain, dan itu pun diambil lagi,” ujar Mendy dalam wawancara usai laga, Selasa (21/1/2026).

Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kecurigaan berlebihan yang mengaitkan performanya dengan praktik “juju” atau sihir. Tuduhan itu membuat Mendy prihatin, terlebih di era sepak bola modern.

“Sangat disayangkan bahwa di tahun 2026 masih ada orang yang percaya bahwa sihir bisa mengendalikan hasil pertandingan,” ucapnya tegas.

Baca Juga:Yamaha Lexi 2026 Hadir dengan Spesifikasi Baru, Tampil Lebih Premium dan Modern, Cek HarganyaDana BOS 2026 Tahap 1 Resmi Cair, Sekolah Wajib Lapor BKU Sebelum 31 Januari

Meski menghadapi tekanan psikologis, Mendy menolak terpancing emosi. Ia memilih merespons dengan ketenangan dan keyakinan penuh.

Puncak ujian terjadi saat Maroko mendapatkan penalti di menit ke-118, ketika ribuan suporter lawan mencoba mengintimidasi dari tribun.

Alih-alih goyah, Mendy justru menemukan ketenangan dalam keyakinannya. Ia mengaku menyerahkan sepenuhnya hasil pertandingan kepada Allah.

“Saya percaya bahwa segalanya ada di tangan Allah. Dialah yang mengendalikan segalanya,” ungkap kiper Senegal tersebut.

Menjelang penalti dieksekusi, Mendy menyebut dirinya membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan memohon pertolongan Tuhan.

Doa itu menjadi sumber kekuatan yang membantunya tetap fokus di tengah tekanan luar biasa.

“Ketika penalti itu diambil, saya membaca Al-Qur’an dan memohon pertolongan kepada Allah,” kata Mendy.

0 Komentar