Banyaknya Pemain Naturalisasi di BRI Super League, Pengamat Toni Ho Sebut Realita Sulit Bersaing di Eropa

Banjir Pemain Naturalisasi di BRI Super League, Pengamat Sebut Realita Sulit Bersaing di
Dok. @dion.markx
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, BRI Super League musim 2025/2026, tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, terjadi tren menarik di mana bursa transfer liga domestik kini didominasi oleh kepulangan para pemain naturalisasi yang sebelumnya berkarier di luar negeri. Fenomena “pulang kampung” para pemain diaspora ini memicu perdebatan hangat, terutama mengenai dampak kualitas individu pemain serta masa depan pembinaan pemain lokal.

Langkah besar diambil oleh klub-klub raksasa seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung yang seolah saling pamer kekuatan finansial. Persija baru saja mengamankan jasa bek kiri Shayne Pattynama dan santer dikabarkan segera meresmikan Ivar Jenner. Di sisi lain, Persib Bandung tidak mau kalah dengan mendaratkan Dion Markx, yang didampingi oleh mantan bintang elite PSG, Layvin Kurzawa. Meski kedatangan nama-nama besar ini meningkatkan pamor liga, ada kekhawatiran besar di balik gemerlapnya nilai transfer tersebut.

Toni Ho, seorang pengamat sepak bola senior, memberikan pandangan kritis terkait fenomena ini. Menurutnya, keputusan klub-klub besar memboyong pemain naturalisasi lebih cenderung didasari oleh motif komersial atau hukum dagang. Dari sisi bisnis, pemain naturalisasi yang berlabel Timnas Indonesia memiliki nilai jual yang sangat tinggi di mata sponsor dan mampu menarik minat suporter untuk memenuhi stadion. Namun, jika dilihat dari kacamata teknis, langkah ini dianggap sebagai langkah mundur bagi si pemain.

Baca Juga:Peringkat Manchester United Naik Lagi Usai Bungkam Arsenal di EmiratesPrediksi Nasib Libra, Scorpio, dan Sagitarius Besok Selasa 27 Januari 2026: Siapa yang Paling Beruntung?

Toni menekankan bahwa tujuan awal naturalisasi adalah agar para pemain tersebut dapat menimba ilmu dan bermain di kompetisi Eropa yang memiliki standar kualitas jauh di atas liga Indonesia. Dengan bermain di liga top dunia, mereka diharapkan bisa membawa dampak positif saat membela Timnas Indonesia. Namun, ketika mereka justru memilih kembali bermain di liga domestik yang secara peringkat regional masih tertinggal, kualitas individu mereka dikhawatirkan akan merosot karena tidak lagi menghadapi tekanan kompetisi tingkat tinggi secara rutin.

Toni memberikan apresiasi tinggi kepada Marselino Ferdinan dan Elkan Baggott yang tetap gigih meniti karier di Eropa meski harus bersaing ketat demi posisi utama. Sebaliknya, ia menilai kepindahan pemain naturalisasi ke Liga Indonesia sebagai indikasi bahwa mereka sudah tidak kompetitif di pasar Eropa. Menurutnya, popularitas mereka membuat mereka terlalu mudah mendapat tempat di tim inti, yang pada akhirnya justru menutup ruang berkembang bagi talenta lokal, apalagi usia para pemain naturalisasi tersebut rata-rata masih produktif.

0 Komentar