RADARCIREBON.TV – Tren gaya hidup slow living dan digital detox semakin populer di awal tahun 2026. Di era yang penuh dengan kecepatan dan paparan layar terus-menerus, banyak orang memilih untuk memperlambat tempo hidup demi kesehatan mental yang lebih baik serta hubungan sosial yang lebih berkualitas. Perubahan ini tidak hanya terlihat di dunia maya, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, mulai dari pola kerja hingga cara mengatur ruang di rumah.
Salah satu contoh nyata dari tren ini adalah kemunculan konsep analog room atau ruang tanpa teknologi di dalam rumah. Ruangan ini dirancang tanpa televisi, ponsel, atau perangkat digital lainnya, dan digunakan sebagai tempat untuk membaca buku fisik, menulis di jurnal, atau sekadar mengobrol dengan keluarga. Konsep ini dianggap dapat membantu individu untuk lebih fokus, tenang, dan sepenuhnya hadir dalam setiap momen yang dijalani.
Selain di rumah, praktik digital detox juga mulai merambah ke aktivitas sehari-hari. Banyak orang mulai menerapkan waktu tanpa ponsel, terutama di pagi hari dan sebelum tidur. Kebiasaan sederhana seperti makan tanpa menatap layar, berjalan kaki tanpa ponsel, dan kembali menjalani hobi tradisional seperti berkebun dan melukis, menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi. Survei terbaru menunjukkan bahwa kelompok muda, khususnya Gen Z dan milenial, adalah yang paling aktif dalam mengurangi waktu menyaksikan layar demi gaya hidup yang lebih sehat.
Baca Juga:Berikut Deretan Shio yang Diprediksi Beruntung di Tahun Kuda Api 2026Apakah Membeli Emas dimasa Sekarang Masih Worth It??
Tren ini juga didorong oleh meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Keletihan dari penggunaan digital dan tekanan untuk selalu siap merespons dianggap menyebabkan stres yang berkepanjangan. Dengan mengadopsi slow living, individu didorong untuk lebih selektif dalam mengatur waktu, menetapkan batasan dalam bekerja, serta memberikan diri mereka waktu untuk istirahat yang lebih berkualitas.
Di Indonesia, gaya hidup ini dianggap sejalan dengan budaya yang mengedepankan kebersamaan dan kedekatan dengan alam. Aktivitas sederhana seperti menikmati kopi di kedai, berbelanja di pasar tradisional, atau berjalan di taman hijau menjadi bentuk slow living yang mudah diterapkan. Para ahli berpendapat bahwa tren ini bukanlah sekadar mode sementara, melainkan merupakan upaya jangka panjang untuk menemukan keseimbangan hidup kembali di era digital yang semakin padat.
