Upah minimum yang masih rendah, kesenjangan biaya hidup antarwilayah serta masuknya industri robotik masih menjadi tantangan bagi buruh di Majalengka. Kondisi ini mengemuka dalam Musyawarah Cabang F SP TSK R KSPSI sebagai penegasan komitmen perjuangan buruh menghadapi perubahan dunia industri.
Upah minimum rendah, kesenjangan biaya hidup antarwilayah serta masuknya industri berbasis robotik menjadi tantangan serius bagi buruh di Majalengka. Kondisi ini menjadikan Musyawarah Cabang Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit Rekonsiliasi, TSK R KSPSI sebagai momentum penegasan arah perjuangan buruh lima tahun ke depan.
Pimpinan Daerah F SP TSK R-KSPSI Jawa Barat, Usep Setia Wibawa, menyoroti masih banyak pekerja dengan masa kerja di atas satu tahun yang hanya menerima upah UMK. Ia menilai kesejahteraan buruh perlu diperkuat melalui Perjanjian Kerja Bersama serta kesiapan menghadapi peralihan teknologi industri.
Baca Juga:DPRD Rekomendasikan Pengelolaan Parkir Gandeng Pihak Ketiga – VideoSMP Muhammadiyah 1 Kota Cirebon Adakan MHQ – Video
Oleh karenanya, Ketua PC terpilih Ade Riki Djunaedi menegaskan kepengurusan baru akan segera menyusun program kerja dengan fokus awal pada peningkatan kualitas pengurus. Hal ini dinilai penting agar pengurus memiliki kemampuan komunikasi dan negosiasi yang baik dalam memperjuangkan hak pekerja.
Sementara, Musyawarah Cabang ke-1 ini dilaksanakan sebagai bagian dari regenerasi kepengurusan organisasi. Namun lebih dari itu, forum ini menjadi tolak ukur kesiapan buruh menghadapi tantangan dunia kerja lima tahun ke depan.