RADARCIREBON.TV – Banyak orang mengira Cap Go Meh hanya identik dengan pawai meriah, barongsai, dan lampion warna-warni. Padahal, di balik kemeriahan itu, tersimpan makna mendalam yang menjadikan Cap Go Meh sebagai momen paling sakral sekaligus penutup resmi rangkaian Imlek 2026. Perayaan yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar Tionghoa ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi simbol harapan, penyucian diri, dan penguatan nilai keluarga.
Istilah Cap Go Meh sendiri berasal dari dialek Hokkien, di mana Cap Go berarti lima belas dan Meh berarti malam. Artinya, perayaan ini digelar tepat pada malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Dalam budaya Tionghoa, momen ini juga dikenal sebagai Yuan Xiao Jie atau Festival Lampion. Sejarahnya sudah ada sejak Dinasti Han, ketika lentera dinyalakan sebagai simbol cahaya yang menerangi kehidupan sekaligus bentuk doa kepada Dewa Tertinggi, Thai Yi. Tradisi spiritual itu kemudian berkembang menjadi festival rakyat yang dirayakan luas lintas generasi.
Cap Go Meh menandai berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Imlek. Setelah 15 hari penuh doa, kunjungan keluarga, serta berbagai ritual keberuntungan, hari ini menjadi penutup yang sarat refleksi. Masyarakat memanjatkan harapan agar tahun yang baru membawa rezeki, kesehatan, dan perlindungan dari hal-hal buruk. Tak heran, Cap Go Meh juga sering disebut sebagai momen “tolak bala”, karena dipercaya mampu membersihkan energi negatif.
Baca Juga:Dicoret dari Bansos? Jangan Panik! 3,9 Juta Warga Justru Dapat Modal Usaha Rp5 JutaTanggal Penting Mudik Gratis Lebaran 2026: Jateng Siapkan 302 Bus & 2 Kereta Api ke 35 Daerah, Ini Cara Daftar
Dari sisi keluarga, Cap Go Meh punya makna emosional yang kuat. Hidangan khas seperti tangyuan atau ronde melambangkan persatuan dan keharmonisan. Makan bersama menjadi simbol keutuhan keluarga, sekaligus doa agar hubungan tetap hangat sepanjang tahun. Tradisi ini menegaskan bahwa Imlek bukan hanya soal keberuntungan materi, tetapi juga keseimbangan batin dan relasi antarmanusia.
Lampion yang diterbangkan atau dinyalakan pun bukan hiasan semata. Cahaya lampion melambangkan harapan baru, pelepasan beban lama, dan doa yang “dikirim” ke langit. Setiap warna dan cahaya membawa pesan optimisme, seolah mengingatkan bahwa setiap orang berhak memulai lembaran hidup yang lebih baik.
