Su sebenarnya memulai final dengan agresif. Namun kesalahan pendaratan pada salah satu percobaan krusial membuat jarak poinnya sulit dikejar. Risiko besar yang ia ambil justru menjadi bumerang.
Meski gagal mempertahankan emas, Su tetap mencatat sejarah pribadi. Dengan koleksi medali dari beberapa edisi Olimpiade, ia kini menjadi salah satu snowboarder paling konsisten di era modern.
Big Air: Ajang Nyali dan Presisi di Olimpiade 2026
Nomor Big Air snowboarding kembali membuktikan diri sebagai salah satu tontonan paling ekstrem di Olimpiade Musim Dingin 2026. Atlet dituntut memadukan ketinggian lompatan, rotasi udara, kompleksitas trik, serta pendaratan bersih semua dalam hitungan detik.
Baca Juga:Indonesia Tanpa Wakil di Olimpiade Musim Dingin, Italia Pecah Telur Emas Snowboard, Asia Makin MenggigitPerjalanan Hidup dan Karier Mia Audina, Peraih Medali Perak Olimpiade yang Memilih Jadi Warga Negara Belanda
Berbeda dengan slopestyle yang menuntut konsistensi lintasan, Big Air adalah soal satu momen krusial. Salah hitung sedikit saja, podium bisa lenyap.
Snowboarding sendiri menjadi bagian Olimpiade sejak 1998 dan terus berevolusi. Di Milano-Cortina, cabang ini kembali menjadi magnet perhatian berkat tingkat kesulitan trik yang semakin tidak masuk akal.
