Tradisi Munggahan Menyimpan Makna Spiritual dan Sosial Jelang Datangnya Bulan Puasa

Munggahan
Tradisi Munggahan terutama dikenal di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, khususnya di kalangan masyarakat Sunda. Foto: Radar Sukabumi/tangkap layar - radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai daerah Indonesia memiliki tradisi khas yang dilakukan secara turun-temurun.

Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Munggahan, sebuah kebiasaan yang identik dengan makan bersama dan silaturahmi sebelum memasuki masa puasa. Meski sering dianggap sekadar acara kumpul dan santap hidangan, Munggahan sejatinya menyimpan makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat yang menjalankannya.

Tradisi Munggahan terutama dikenal di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, khususnya di kalangan masyarakat Sunda. Namun dalam perkembangannya, nilai-nilai Munggahan juga dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat di daerah lain dengan berbagai penyesuaian.

Baca Juga:Emas di Persimpangan Akhir Februari 2026: Akankah Harga Kembali Bersinar atau Justru Terkoreksi? POCO F8 Ultra: Bocoran Spesifikasi, Prediksi Performa, dan Alasan Ponsel Ini Ditunggu Pecinta Flagship Killer

Asal Usul dan Arti Kata Munggahan

Secara bahasa, istilah Munggahan berasal dari kata “munggah” dalam bahasa Sunda yang berarti “naik”. Makna “naik” di sini tidak dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai simbol peningkatan, baik secara spiritual maupun moral. Munggahan dimaknai sebagai upaya “menaikkan” kualitas diri sebelum memasuki bulan Ramadan, bulan yang penuh dengan ibadah dan pengendalian diri.

Tradisi ini dipercaya telah berlangsung sejak lama dan berkembang seiring dengan masuknya ajaran Islam di tanah Sunda. Masyarakat mengadaptasi nilai-nilai keislaman ke dalam budaya lokal, sehingga Munggahan menjadi sarana persiapan batin dan sosial sebelum menjalani ibadah puasa.

Pelaksanaan Tradisi Munggahan

Pelaksanaan Munggahan biasanya dilakukan satu atau dua hari sebelum bulan Ramadan dimulai. Bentuk kegiatannya bisa beragam, tergantung kebiasaan keluarga atau lingkungan setempat. Umumnya, Munggahan diisi dengan makan bersama, baik bersama keluarga besar, tetangga, maupun rekan kerja.

Hidangan yang disajikan pun tidak memiliki ketentuan khusus. Namun, masyarakat biasanya menyajikan makanan khas daerah atau menu favorit keluarga sebagai simbol rasa syukur atas nikmat yang telah diterima. Dalam beberapa komunitas, Munggahan juga dilakukan dengan menggelar doa bersama atau pengajian singkat.

Selain makan bersama, tradisi ini juga kerap dimanfaatkan sebagai momen saling memaafkan. Masyarakat menyadari bahwa memasuki bulan puasa, hati dan hubungan sosial perlu dibersihkan dari rasa dendam atau kesalahpahaman.

0 Komentar