Ada tiga rangkaian pelaksanaan sidang Isbat, yaitu; pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia.
“Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat,” ujar Abu Rokhmad.
Masyarakat diimbau untuk menunggu hasil sidang isbat dan pengumuman pemerintah terkait awal Ramadan 1447 H nanti. Hal ini sejalan dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah.
Baca Juga:Pemerintah Tetapkan WFA Jelang dan Usai Lebaran 2026Cap Go Meh 2026 Tanggal Berapa dan Apakah Libur?
Sementara itu Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Aceh memperkirakan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh hari Kamis 19 Februari 2026. Pasalnya, berdasarkan data falakiyah menunjukkan bahwa posisi hilal masih berada di bawah ufuk pada 17 Februari 2026.
“Berdasarkan data Tim Falakiyah, 1 Ramadan tahun ini diperkirakan jatuh pada Kamis 19 Februari 2026,” kata Kepala Kanwil Kemenag Aceh Azhari mengutip Antara, Rabu (11/2).
Di sisi lain, Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memprediksi 1 Ramadhan 1447 Hijriah akan jatuh pada 19 Februari 2026. Simak penjelasannya.
Prediksi Thomas ini berbeda dari Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 18 Februari 2026.
Menurut Thomas perbedaan acuan kriteria hilal diperkirakan membuat awal Ramadan terbagi menjadi dua, yakni pada 18 Februari dan 19 Februari.
Ia menjelaskan posisi hilal saat waktu maghrib 17 Februari belum memenuhi kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang digunakan pemerintah untuk menentukan awal bulan hijriah. Ketika waktu tersebut posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
