Mengenal Tradisi Imlek di Indonesia, Dari Ritual Leluhur hingga Cap Go Meh

Tahun Baru Imlek
Mengenal Tradisi Imlek di Indonesia. Foto : Ilustrasi AI
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Tionghoa, tetapi juga mencerminkan kekayaan akulturasi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Tradisi ini memadukan nilai-nilai leluhur masyarakat Tionghoa dengan kearifan lokal Indonesia, menjadikannya bagian penting dari keberagaman budaya nasional.

Perjalanan Imlek di Indonesia sempat mengalami pasang surut. Selama beberapa dekade, perayaan ini dibatasi di ruang publik. Titik balik terjadi pada tahun 2000, ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mengembalikan kebebasan masyarakat Tionghoa untuk mengekspresikan budaya dan tradisinya secara terbuka. Sejak saat itu, Imlek kembali dirayakan secara luas dan bahkan menjadi hari libur nasional.

Menjelang Imlek, berbagai ritual persiapan dilakukan oleh keluarga Tionghoa. Salah satu tradisi yang paling umum adalah membersihkan rumah sebelum hari perayaan. Aktivitas ini dimaknai sebagai upaya membuang kesialan dari tahun sebelumnya dan menyambut keberuntungan baru. Rumah kemudian dihias dengan ornamen berwarna merah, seperti lampion dan hiasan pintu, yang melambangkan kebahagiaan, harapan, dan energi positif. Selain itu, sembahyang leluhur juga menjadi bagian penting, baik dilakukan di kelenteng maupun di altar rumah.

Baca Juga:Tren Warna Baju Lebaran 2026: Dominasi Earth Tone hingga Aksen Berani yang EleganDeretan Gelar dan Sejarah Timnas Futsal Indonesia di Era Hector Souto

Imlek juga identik dengan jamuan makan keluarga. Makan malam bersama pada malam pergantian tahun dipercaya dapat mempererat hubungan antarkeluarga. Berbagai hidangan khas disajikan, seperti kue keranjang (nian gao) yang melambangkan kemakmuran dan keharmonisan. Ada pula yu sheng, salad ikan segar yang disantap bersama-sama sambil mengaduk dan mengangkat sumpit tinggi-tinggi sebagai simbol doa dan harapan setinggi langit. Dalam tradisi ini, ikan yang telah disajikan tidak boleh dibalik karena diyakini dapat memutus aliran rezeki.

Simbol keberuntungan lainnya yang lekat dengan Imlek adalah angpao. Amplop merah berisi uang ini biasanya diberikan oleh orang yang telah menikah kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah. Jumlah uang di dalam angpao memiliki aturan tersendiri, di mana angka genap dan menghindari angka empat dianggap membawa keberuntungan.

Perayaan Imlek di Indonesia semakin semarak dengan berbagai pertunjukan budaya, seperti barongsai dan liong yang dipercaya mampu mengusir energi negatif. Puncak rangkaian perayaan biasanya ditandai dengan Cap Go Meh, yang dirayakan 15 hari setelah Imlek melalui parade budaya meriah di berbagai daerah, seperti Singkawang dan Bogor. Tradisi ini menjadi bukti nyata harmoni budaya yang hidup dan terus berkembang di Indonesia.

0 Komentar