RADARCIREBON.TV – Empat gol dalam satu malam. Empat kali jala bergetar. Empat kali publik berdiri. Di Tofiq Bahramov, Baku Azerbaijan, ketika Newcastle United menggulung Qarabağ FK 6-1, satu nama melesat seperti roket tanpa rem: Anthony Gordon.
Dan seperti biasa, Inggris langsung ribut. Baru kemarin dikaitkan dengan Manchester United, hari ini namanya diseret ke dua raksasa lain: Arsenal dan Liverpool. Empat gol cukup untuk membuat setengah Premier League panik, setengahnya lagi pura-pura tenang sambil menghitung saldo rekening.
Gordon menanggapi isu itu dengan satu kalimat yang terdengar seperti tamparan ke wajah media: omong kosong belaka. Tapi mari jujur. Di Inggris hari ini, tak ada komoditas yang lebih panas dari Gordon. Ia bukan sekadar winger cepat. Ia adalah mesin tekanan, pencetak gol, dan simbol modern sepak bola Inggris: agresif, berani, dan tak takut disorot. Usianya baru 24 tahun, tapi sorot matanya seperti pemain yang sudah makan asam garam final.
Baca Juga:Manchester United Makin Ngebet, Anthony Gordon Jadi Manusia Tercepat di Liga ChampionsAnthony Gordon Mengamuk, Cetak Empat Gol, Bawa Newcastle Atasi Qarabag FK 6-1
Lulusan akademi Everton itu tumbuh sebagai pendukung Liverpool. Ia bahkan tak pernah menyembunyikan mimpinya mengenakan merah Anfield. Ironisnya, ia pernah dilepas pada usia 11 tahun. Hidup memang suka bercanda kejam.
Transfer £40 juta pada Januari 2023 ke Newcastle sempat dipandang sebelah mata. Kini? Angka itu terlihat seperti diskon tengah musim. Jika ada lelang dibuka besok pagi, jangan kaget bila nilainya melonjak dua kali lipat. Aturan PSR, neraca keuangan, dan kalkulasi manajemen bisa saja berubah ketika seorang pemain mencetak empat gol di panggung Eropa.
Ia sendiri pernah mengaku bahwa kegagalan pindah ke Merseyside pada 2024 menghantam mentalnya. Euro datang, tapi menit bermain tak banyak. Transfer hampir terjadi, lalu batal. Ia harus menerima mimpi, lalu menerima kegagalan mimpi itu. “Saya manusia,” katanya. Dan kalimat itu terdengar jujur.
Namun justru di situlah Gordon tumbuh. Ia belajar bahwa memikirkan masa depan terlalu jauh hanya akan membuat kaki terasa berat. Ia pernah tampil di bawah standar karena kepalanya sibuk memikirkan transfer. Kini tidak lagi.
