RADARCIREBON.TV – Langit politik Jawa Barat mendadak berguncang. Kabar yang berembus dari Solo terasa seperti kilat di siang bolong. Mantan Bupati Indramayu, Nina Agustina, tiba-tiba muncul dari kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo. Bukan sekadar silaturahmi biasa. Momen itu menjadi penanda babak baru perjalanan politiknya: resmi bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Publik terhenyak. Nina selama ini dikenal sebagai kader PDI Perjuangan, partai yang mengusung dan mengantarkannya menjadi Bupati Indramayu. Namun, dinamika politik rupanya bergerak lebih cepat dari perkiraan siapa pun.
Didampingi Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hapidin, Nina tampak santai namun penuh makna saat menyampaikan pernyataan kepada wartawan. “Alhamdulillah bisa silaturahmi dengan bapak. Dulu kan bapak ke Indramayu saat panen raya, dua kali beliau hadir. Mudah-mudahan Indramayu akan lebih baik lagi,” ujarnya.
Baca Juga:Cabup Indramayu Nina Agustina Diadang Saat Kampanye, Nama Lucky Hakim TerseretNina Agustina Siap Kembali Maju Dalam Kontestasi Pilkada Indramayu 2024
Kalimatnya sederhana. Tapi maknanya dalam. Abang Ijo tak kalah lugas. Ia menyebut ada restu langsung dari Jokowi untuk Nina bergabung dan membesarkan PSI di Jawa Barat. “Ya restunya Bu Nina bergabung bersama kita membesarkan PSI di Jawa Barat,” katanya.
Restu. Kata itu menjadi kunci. Perpindahan Nina terasa dramatis karena ia bukan figur sembarangan. Ia adalah putri mantan Kapolri Da’i Bachtiar dan kakak dari Wakapolda Jawa Barat Adi Vivid Bachtiar. Latar belakang keluarga elite keamanan itu membuat langkah politiknya selalu menjadi sorotan.
Lebih mengejutkan lagi, keputusan ini terjadi tak lama setelah Pilkada Indramayu terakhir yang penuh tensi. Dalam kontestasi tersebut, Nina harus mengakui kemenangan penantangnya, Lucky Hakim, yang diusung Partai NasDem. Kekalahan itu menandai berakhirnya kepemimpinannya di Indramayu, sekaligus membuka babak refleksi politik yang panjang.
Banyak yang mengira Nina akan tetap bertahan di PDI Perjuangan, membangun kembali kekuatan dari dalam. Namun politik selalu menyimpan kejutan. Kepindahan ke PSI bukan hanya soal kendaraan baru, tetapi juga sinyal reposisi di peta politik Jawa Barat.
PSI sendiri tengah agresif memperluas pengaruhnya di provinsi ini. Dengan figur sekelas Nina mantan kepala daerah dengan jaringan birokrasi dan basis massa yang jelas PSI seperti menemukan amunisi strategis. Apalagi Jawa Barat adalah lumbung suara besar yang selalu menjadi penentu arah politik nasional.
