Namun demikian, Heerkens tidak serta merta menyerah. Di depan media, ia menegaskan bahwa dirinya akan memanfaatkan waktu latihan dan menit bermain di tim cadangan atau laga kompetisi lainnya sebagai batu loncatan untuk memperbaiki permainan. Ia berharap suatu saat dapat kembali menjadi kandidat kuat untuk posisi starter ketika performanya mencapai level yang diharapkan oleh pelatih dan tim pelatih.
Heerkens juga berbicara tentang dukungan yang ia terima dari rekan setim, pelatih, dan fans Ajax. Meski merasa sedih tidak menjadi kiper pertama, ia tetap mendapatkan semangat dari lingkungan klub yang profesional dan suportif. Banyak rekan yang memberikan dukungan moral agar ia tetap fokus pada perkembangan pribadi dan komitmennya kepada tim, bukan larut dalam kekecewaan.
Emosi yang dialami Heerkens ini menggambarkan realitas hidup sebagai pesepak bola profesional, di mana persaingan internal sering kali sangat sengit dan keputusan pelatih bisa membawa dampak emosional tersendiri. Di satu sisi, ada peluang yang tersedia untuk tampil maksimal, namun di sisi lain pemain juga harus menerima bahwa bukan semua harapan akan langsung terwujud.
Baca Juga:Bhayangkara FC Hajar Semen Padang 4-0, Pelatih Antonic Sebut Laga “Cukup Lucu”Persib vs Madura United: Analisis Statistik, Form Terbaru & Prediksi Skor BRI Super League 2025/26
Bagi Joeri Heerkens, periode sulit ini akan menjadi momen pembelajaran penting — baik dari sisi teknis permainan, mental, maupun profesionalisme. Dengan semangat yang belum padam, ia berharap musim-musim berikutnya akan membuka kembali kesempatan untuk bersinar di bawah mistar Ajax atau di klub lain jika jalannya berubah.
