Dengan situasi tersebut, pemecatan Amorim dipandang oleh sebagian pihak sebagai upaya manajemen untuk segera memperbaiki arah performa tim di kompetisi domestik dan Eropa. Namun, keputusan ini membawa konsekuensi finansial yang berat, terutama karena adanya biaya pesangon yang tinggi meskipun kontrak pelatih masih memiliki sisa durasi cukup panjang. Dalam konteks sepak bola modern, di mana biaya transfer dan gaji pemain sudah sangat tinggi, beban semacam ini bisa berdampak pada kebijakan anggaran klub di periode berikutnya, terutama ketika Manchester United berupaya kembali bersaing untuk gelar juara.
Selain itu, proses pemecatan yang terjadi setelah komentar publik Amorim yang mengkritik hierarki klub dipandang oleh banyak pengamat sebagai salah satu penyebab utama konflik internal yang mempercepat pengambilan keputusan tersebut. Komentar yang muncul setelah hasil imbang 1-1 melawan Leeds United menjadi salah satu titik bergulirnya isu hubungan kurang harmonis antara sang pelatih dan manajemen klub yang akhirnya berujung pada pemecatan.
Dalam jangka panjang, Manchester United kini harus memikirkan bagaimana menjaga stabilitas finansial dan kinerja tim setelah pergantian manajer yang cukup mahal tersebut. Revelasi tentang besarnya biaya pemecatan Amorim ini juga menjadi peringatan bagi klub lain di Premier League bahwa perubahan manajemen sering kali memiliki dampak besar bukan hanya di lapangan, tetapi juga di neraca keuangan klub.
