Kini, peluang diplomasi itu tampak menguap di tengah asap reruntuhan. Serangan yang dilaporkan menyasar kota-kota di 24 provinsi disebut menghantam fasilitas pertahanan dan juga area sipil. Pemerintah Iran menuding tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan integritas teritorial negara.
Bagi sebagian warga, momen ini terasa seperti pengkhianatan terhadap proses dialog yang sedang dibangun. “Kalau memang ingin damai, kenapa menyerang di saat negosiasi sedang berjalan?” kata Maryam, mahasiswi Universitas Teheran. “Kami merasa dunia menutup pintu sebelum kami sempat berbicara.”
Korban lain dari serangan masih menunggu kabar. Tidak semua yang tewas adalah pejabat militer. Ada teknisi, pekerja sipil, bahkan keluarga yang tinggal di sekitar lokasi fasilitas yang diserang.
Baca Juga:IRAN SERANG BALIK! Rudal Menghantam Israel dan Basis Militer ASPERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Kompak Serang Iran, Ledakan Guncang Teheran!
Pasar saham Iran anjlok tajam pada pembukaan perdagangan Minggu pagi. Harga kebutuhan pokok melonjak. Warga mulai mengantre untuk membeli bahan bakar dan persediaan makanan. Bayangan perang besar menghantui percakapan sehari-hari.
Namun di tengah ketegangan itu, duka personal lebih terasa daripada retorika politik. Di Qom, kota religius yang menjadi pusat studi Syiah, ribuan pelayat memadati kompleks keagamaan. Doa-doa dipanjatkan, bukan hanya untuk Khamenei, tetapi untuk masa depan negara yang kini berdiri di persimpangan.
Konsekuensi dari ancaman “operasi terberat dalam sejarah” tidak hanya akan dirasakan Iran, Israel, atau Amerika Serikat. Kawasan Teluk, jalur energi global, hingga stabilitas ekonomi dunia berada dalam risiko.
Analis menilai, jika Iran benar-benar melancarkan operasi balasan skala besar, respons militer lanjutan hampir pasti terjadi. Siklus serangan dan balasan dapat menyeret kawasan ke konflik terbuka yang lebih luas sesuatu yang selama bertahun-tahun berhasil dihindari meski ketegangan terus memuncak.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah: apakah duka akan berubah menjadi perang total, ataukah masih ada ruang sempit bagi diplomasi yang tersisa?
Untuk saat ini, di jalan-jalan Teheran, warga tidak berbicara tentang strategi militer atau geopolitik. Mereka berbicara tentang kehilangan. Tentang masa depan anak-anak mereka. Tentang rasa takut yang datang bersamaan dengan suara ledakan di pagi buta.
