Namun, komposisi Majelis Ahli sendiri tidak sepenuhnya bebas dari pengaruh politik. Setiap calon anggota harus lebih dulu mendapat persetujuan dari Guardian Council, badan pengawas konstitusi yang selama ini dikenal sering mendiskualifikasi kandidat dengan kecenderungan moderat.
Salah satu contoh paling mencolok terjadi pada 2024 ketika mantan Presiden Hassan Rouhani dilarang mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Ahli. Rouhani dikenal sebagai arsitek kesepakatan nuklir 2015 dengan negara-negara Barat dan kerap dianggap terlalu moderat oleh kalangan garis keras.
Sebelum wafatnya Khamenei, nama Ebrahim Raisi sempat disebut sebagai figur kuat penerus. Namun, Raisi meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024, sehingga peta suksesi berubah drastis.
Baca Juga:Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei Gugur Diserangan Pertama Amerika dan IsraelIRAN SERANG BALIK! Rudal Menghantam Israel dan Basis Militer AS
Kini perhatian mengarah pada Mojtaba Khamenei, putra Khamenei yang berusia 56 tahun. Ia dikenal memiliki pengaruh di lingkaran elite keagamaan dan militer, meski belum pernah menduduki jabatan publik resmi.
Kemungkinan suksesi ayah ke anak memunculkan perdebatan tajam. Sebagian kalangan melihatnya sebagai kelanjutan stabilitas ideologis, sementara yang lain menilai langkah itu berpotensi menyerupai model dinasti, sesuatu yang secara historis ditolak dalam narasi revolusi 1979 yang menggulingkan monarki Shah.
Sejak revolusi yang dipimpin Ruhollah Khomeini, Iran hanya mengalami satu kali transisi kepemimpinan tertinggi, yakni pada 1989 ketika Khomeini wafat dan Khamenei terpilih sebagai penerus. Peralihan saat itu relatif stabil karena terjadi dalam konteks internal, bukan akibat serangan eksternal seperti sekarang.
Pemimpin Tertinggi bukan sekadar simbol spiritual. Ia adalah otoritas tertinggi negara dengan kewenangan atas kebijakan militer, keamanan, peradilan, hingga media negara. Ia juga menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata dan mengawasi langsung Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
IRGC bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga pemain ekonomi besar dengan jaringan bisnis luas. Di tingkat regional, mereka memimpin apa yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan”, jaringan sekutu dan kelompok bersenjata di Timur Tengah yang berseberangan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Kematian Khamenei memicu pernyataan keras dari IRGC dan militer reguler Iran. Mereka bersumpah akan membalas “agresi” yang menewaskan pemimpin tertinggi. Tak lama setelah konfirmasi kematian diumumkan, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke sejumlah target di wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
