Mengapa Mojtaba Dianggap Kuat?
Akses langsung ke pusat kekuasaan selama lebih dari dua dekade. Disebut-sebut memiliki pengaruh dalam penunjukan pejabat strategis. Didukung sebagian faksi konservatif garis keras yang ingin menjaga kesinambungan ideologis.
Namun, jalan Mojtaba tidak mulus. Ia belum pernah memegang jabatan publik resmi. Suksesi ayah ke anak berisiko dipersepsikan sebagai pembentukan dinasti, sesuatu yang bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki.
Bisa memicu resistensi, baik dari kelompok reformis maupun konservatif yang menolak preseden keluarga.
Baca Juga:Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei Gugur Diserangan Pertama Amerika dan IsraelIRAN SERANG BALIK! Rudal Menghantam Israel dan Basis Militer AS
Jika Mojtaba terpilih, Iran kemungkinan akan melanjutkan garis konfrontatif terhadap Barat, sekaligus memperkuat posisi IRGC dalam struktur negara.
Masoud Pezeshkian: Presiden Reformis dalam Sistem Konservatif
Presiden saat ini, Masoud Pezeshkian, otomatis menjadi bagian dari dewan kepemimpinan sementara. Meski bukan ulama dengan otoritas tertinggi, namanya tetap masuk radar suksesi.
Kekuatan Pezeshkian
Mewakili spektrum reformis dan pragmatis.
Memiliki legitimasi elektoral sebagai presiden.
Dapat menjadi figur kompromi untuk meredakan tekanan internasional.
Keterbatasannya
Sistem Iran tetap menempatkan garis keras sebagai kekuatan dominan.
Persetujuan dari Guardian Council menjadi faktor kunci.
Reformis sering kali tidak mendapat dukungan mayoritas dalam Assembly of Experts.
Jika Pezeshkian dipilih meski peluangnya kecil, itu akan menjadi sinyal besar perubahan arah kebijakan luar negeri Iran.
Gholamhossein Mohseni Ejei: Figur Garis Keras Berpengalaman
Kepala peradilan, Gholamhossein Mohseni Ejei, adalah kandidat dengan profil konservatif kuat. Ia lama berkecimpung dalam sistem hukum dan keamanan Iran.
Mengapa Ia Diperhitungkan?
Loyal terhadap garis ideologi revolusi.
Dipandang sebagai tokoh tegas dalam menghadapi oposisi internal.
Berpengalaman dalam struktur kekuasaan tinggi.
Namun, ia tidak memiliki kharisma populis seperti Khomeini atau legitimasi revolusioner besar. Dukungan terhadapnya akan sangat bergantung pada kalkulasi elite keamanan.
Opsi Kolektif atau Figur Kompromi?
Beberapa analis menilai, dalam kondisi perang dan tekanan eksternal, Majelis Ahli mungkin mempertimbangkan figur kompromi yang relatif netral—bukan terlalu keras, bukan pula reformis ekstrem.
Baca Juga:Tim Pemain Keturunan Indonesia Ian Maatsen Tumbang, Aston Villa Dihantam Wolves 2-0Demiane Agustien Calon Pemain Timnas Indonesia Cetak Hattrick Bersama Arsenal
Sejarah mencatat, ketika Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, banyak pihak meragukan kapasitas Khamenei saat itu. Namun kompromi politik menghasilkan konsensus.
