RADARCIREBON.TV – Malam di Anfield tak pernah kehilangan magisnya. Kali ini, atmosfer itu berubah menjadi panggung dominasi total saat Liverpool melumat Galatasaray dengan skor telak 4-0 pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Kamis (19/3) dini hari WIB.
Ironisnya, kemenangan besar ini sempat diwarnai momen yang hampir mengubah jalannya laga. Sebuah peluang emas dari titik putih terbuang percuma. Mohamed Salah, algojo andalan The Reds, gagal menuntaskan tugasnya. Sepakannya terlalu terbaca, terlalu mudah bagi kiper lawan.
Namun di Anfield, satu kesalahan jarang menjadi akhir cerita. Liverpool justru menjawab kegagalan itu dengan cara paling kejam: membanjiri pertahanan Galatasaray tanpa ampun.
Baca Juga:Tuduhan Individualistis Ditepis, Arne Slot Bela Permainan LiverpoolInter Milan Siap Lepas Alessandro Bastoni, Barcelona dan Liverpool Saling Berebut
Sejak peluit awal, pasukan Arne Slot tampil seperti tim yang tak ingin memberi ruang bernapas. Tekanan tinggi, pergerakan tanpa bola yang cair, dan tempo cepat membuat Galatasaray seolah hanya menjadi penonton di lapangan.
Gol pembuka lahir dari kaki Dominik Szoboszlai, sebuah tembakan keras dari luar kotak penalti yang menghujam tanpa kompromi. Gelandang asal Hungaria itu kembali membuktikan dirinya sebagai motor permainan yang paling stabil musim ini.
Gol tersebut bukan sekadar pembuka. Itu adalah pernyataan. Setelahnya, Liverpool seperti menemukan ritme sempurna. Kombinasi serangan mengalir cepat, satu-dua sentuhan yang memecah konsentrasi lini belakang Galatasaray.
Gol kedua datang dari Hugo Ekitike yang memanfaatkan umpan matang Salah. Pergerakannya cerdas, penyelesaiannya dingin. Liverpool semakin menjauh.
Tak butuh waktu lama, Ryan Gravenberch ikut mencatatkan namanya di papan skor. Bola liar di kotak penalti disambar tanpa ragu, mempertegas dominasi yang sudah tak terbantahkan.
Di tengah pesta gol itu, Salah akhirnya menebus kesalahannya. Ia mencetak gol ke-50 di Liga Champions, sebuah pencapaian yang menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling konsisten di panggung terbesar Eropa.
Gagal penalti? Itu hanya catatan kecil dalam malam besar. Di sisi lain, Galatasaray kehilangan arah sejak babak pertama. Harapan mereka bertumpu pada Victor Osimhen, namun nasib berkata lain. Cedera yang dialaminya membuat lini serang tim tamu tumpul seketika.
