RADARCIREBON.TV – Kejutan datang dari pesisir selatan Inggris. Raksasa yang biasanya berjalan gagah di puncak klasemen, tiba-tiba terpeleset dan kali ini bukan karena hujan, melainkan karena satu nama yang mungkin sempat dilupakan: Danny Welbeck.
Di kandang sendiri, Brighton & Hove Albion tampil tanpa rasa minder sedikit pun saat menjamu Liverpool FC. Di atas kertas, ini seharusnya jadi formalitas. Apalagi Liverpool tetap menurunkan “pasukan elit” mereka minus Mohamed Salah yang absen karena cedera.
Nama-nama seperti Cody Gakpo, Dominik Szoboszlai, Florian Wirtz, hingga sang tembok hidup Virgil van Dijk tetap diturunkan. Bahkan di bawah mistar berdiri Giorgi Mamardashvili. Skuad mahal, nama besar, ekspektasi tinggi paket lengkap untuk menang mudah.
Tapi sepak bola, seperti biasa, punya selera humor yang kejam.
Baca Juga:Tuduhan Individualistis Ditepis, Arne Slot Bela Permainan LiverpoolInter Milan Siap Lepas Alessandro Bastoni, Barcelona dan Liverpool Saling Berebut
Brighton justru tampil seperti tim yang tahu betul bagaimana cara mempermalukan tamu agungnya. Bermodalkan Kaoru Mitoma dan Welbeck yang mungkin bagi sebagian orang hanya “mantan pemain besar” mereka menulis skenario yang tak masuk akal.
Hasilnya? Brighton menang 2-1. Dan ya, dua gol itu datang dari Welbeck. Seolah ingin mengingatkan Liverpool bahwa terkadang mimpi buruk datang dari masa lalu yang diremehkan.
Satu-satunya gol Liverpool dicetak oleh Milos Kerkez, itu pun tak cukup untuk menyelamatkan harga diri yang mulai retak.
Secara statistik, Liverpool memang terlihat “lebih dominan”. Penguasaan bola 53 persen, angka yang terdengar meyakinkan bagi mereka yang hanya membaca skor di atas kertas. Tapi sepak bola tidak dimenangkan oleh spreadsheet.
Brighton menciptakan lima peluang emas, Liverpool hanya satu. Tembakan? Brighton 16, Liverpool 12. Bahkan di babak kedua, Liverpool seperti lupa cara menyerang ,nol peluang. Sementara Brighton? Tiga peluang emas, sebelas tembakan. Sebuah perbandingan yang terasa seperti lelucon pahit bagi tim tamu.
Dan yang paling ironis, Liverpool yang duduk manis di puncak klasemen justru terlihat seperti tim papan tengah yang sedang panik. Sementara Brighton yang berada di posisi ke-10 tampil seperti kandidat juara yang lapar.
