RADARCIREBON.TV- Nilai tukar rupiah lagi jadi perhatian serius nih belakangan ini. Soalnya, rupiah sempat menyentuh angka psikologis di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Buat sebagian orang mungkin cuma angka, tapi buat pelaku usaha, ini bisa jadi “alarm” yang cukup bikin was-was.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia lewat kurs referensi JISDOR, pada 1 April 2026 nilai rupiah tercatat di level Rp17.002 per dolar AS. Padahal, sejak awal Maret 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp16.900-an.
Bahkan sempat hampir tembus Rp17.000 di pertengahan dan akhir Maret. Jadi bisa dibilang, pelemahan ini terjadi secara bertahap, tapi cukup konsisten.
Baca Juga:Piala AFF Futsal 2026: Jadwal Timnas Indonesia, Daftar Pemain, dan Misi Raih Gelar Ketiga!Jadwal & Prediksi BRI Super League Pekan 26: Persib Terancam, Borneo Intai, Persija Diuji Tim On Fire
Menurut Sekjen Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Anggawira, kondisi ini harus jadi perhatian serius. Soalnya dampaknya nggak main-main, terutama buat pelaku usaha yang masih bergantung pada impor.
Memang sih, pelemahan rupiah ini ada sisi positifnya. Buat eksportir, kondisi ini justru bisa jadi angin segar. Produk Indonesia jadi lebih murah di pasar global, sehingga lebih kompetitif. Selain itu, pemasukan dalam bentuk dolar juga jadi lebih besar kalau dikonversi ke rupiah.
Tapi sayangnya, nggak semua pelaku usaha ada di posisi itu. Mayoritas industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, mesin, atau komponen dari luar negeri. Nah, di sinilah masalahnya mulai terasa.
Ketika dolar naik, otomatis biaya produksi ikut melonjak. Industri seperti manufaktur, otomotif, elektronik, farmasi, makanan dan minuman, sampai logistik dan energi bakal kena imbasnya. Nggak cuma itu, perusahaan yang punya utang dalam dolar juga harus keluar uang lebih banyak untuk bayar cicilan.
Kalau kondisi ini terus berlanjut, dampaknya bisa sampai ke masyarakat luas. Harga barang berpotensi naik, terutama yang berbahan baku impor seperti gandum dan kedelai. Produk elektronik, kendaraan, sampai kebutuhan rumah tangga lainnya juga bisa ikut terkerek naik.
Ujung-ujungnya, daya beli masyarakat bisa melemah. Kalau daya beli turun, penjualan ikut seret, dan dunia usaha pun makin tertekan. Jadi efeknya memang seperti domino—saling berkaitan satu sama lain.
