RADARCIREBON.TV- Cirebon kembali menghidupkan salah satu tradisi warisan leluhur yang sarat makna spiritual dan sosial, yakni tradisi “Ngapem” di penghujung bulan Safar.
Tradisi ini tidak sekadar membagikan kue apem kepada masyarakat, melainkan juga menjadi simbol doa bersama untuk keselamatan, penolak bala, serta bentuk kepedulian sosial antar warga.
Setiap tahun, menjelang akhir bulan Safar dalam kalender Hijriah, masyarakat di berbagai wilayah Cirebon, baik di lingkungan keraton maupun kampung-kampung, menggelar kegiatan Ngapem dengan penuh khidmat. Apem, kue tradisional berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula, memiliki filosofi mendalam. Kata “apem” diyakini berasal dari bahasa Arab “afwan” yang berarti maaf, sehingga tradisi ini juga dimaknai sebagai momentum saling memaafkan dan membersihkan diri dari kesalahan.
Baca Juga:Misteri Penguasa Tertinggi Dunia! Terungkapnya Sosok Imu yang Selama Ini Bersembunyi di Balik BayanganSekali Cas, Bisa Sejauh Apa? Mengupas Tuntas Jarak Tempuh BYD Atto 1 Dynamic yang Bikin Penasaran!
Ngapem Akhir Safar Tradisi Penuh Makna dari Cirebon
Tradisi Ngapem biasanya diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh setempat. Doa-doa yang dipanjatkan berisi harapan agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya, penyakit, serta segala bentuk musibah yang diyakini sering dikaitkan dengan bulan Safar. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat, Safar dianggap sebagai bulan yang memiliki potensi datangnya ujian atau bala, sehingga penutupannya diisi dengan ritual spiritual sebagai bentuk ikhtiar dan tawakal kepada Tuhan.
Setelah doa bersama, ratusan hingga ribuan kue apem dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Pembagian ini seringkali dilakukan secara meriah, bahkan di beberapa tempat menjadi semacam rebutan yang penuh antusiasme. Namun di balik suasana tersebut, terkandung nilai kebersamaan dan rasa syukur yang mendalam. Masyarakat percaya bahwa berbagi apem tidak hanya membawa keberkahan bagi penerima, tetapi juga bagi yang memberi.
Menariknya, tradisi Ngapem di Cirebon tidak hanya berlangsung dalam lingkup keluarga atau kampung kecil, tetapi juga menjadi agenda budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Keraton sebagai pusat budaya Cirebon juga turut melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas daerah. Hal ini menunjukkan bahwa Ngapem bukan sekadar ritual biasa, melainkan warisan budaya yang terus dijaga eksistensinya dari generasi ke generasi.
