RADARCIREBON.TV- Pasar saham Indonesia lagi nggak terlalu bersahabat di awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali ditutup melemah pada Senin, 6 April 2026. Di akhir perdagangan, IHSG berada di level 6.989,43, turun sekitar 37 poin atau minus 0,53 persen.
Sepanjang hari, pergerakan IHSG sebenarnya sempat naik turun, tapi tetap lebih banyak “main” di zona merah. Angkanya sempat berada di kisaran 6.934 sampai 7.009. Jadi bisa dibilang, pasar lagi agak ragu-ragu dan belum punya tenaga buat naik lebih tinggi.
Kalau dilihat dari pergerakan saham, jumlah yang turun juga lebih banyak dibanding yang naik. Ada sekitar 437 saham yang melemah, sementara yang naik cuma 264 saham, dan sisanya stagnan. Ini nunjukin kalau tekanan jual memang cukup dominan hari ini.
Baca Juga:Wajib Tahu! Ini Daftar Operasi yang Ditanggung dan Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan, Jangan Sampai Salah!Cek Sekarang! Update Daftar Harga BBM Pertamina Dex April 2026 dari Jawa hingga Papua
Dari sisi transaksi, aktivitas pasar masih cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp15,19 triliun dengan total 27,7 miliar saham yang diperdagangkan dalam lebih dari 1,6 juta transaksi. Tapi meskipun ramai, kapitalisasi pasar justru ikut turun jadi sekitar Rp12.185 triliun. Artinya, nilai keseluruhan pasar saham kita lagi sedikit tergerus.
Kalau dibedah lebih dalam, sektor yang paling kena pukulan hari ini adalah utilitas, yang anjlok sampai lebih dari 6 persen. Disusul sektor energi yang juga turun cukup dalam sekitar 3 persen. Dua sektor ini memang lagi jadi sorotan karena ada saham-saham besar yang performanya lagi jeblok.
Beberapa saham yang paling bikin IHSG “berat” hari ini adalah Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Keduanya kompak turun cukup tajam, bahkan mendekati minus 10 persen.
Karena kapitalisasinya besar, pergerakan dua saham ini langsung berpengaruh signifikan ke IHSG, bahkan disebut menyeret indeks sampai puluhan poin.
Menariknya, kedua saham ini termasuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC), alias saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi di pihak tertentu.
Belakangan, data soal saham-saham HSC ini memang lagi dibuka oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Hal ini bikin investor jadi lebih waspada karena saham dengan kepemilikan tinggi biasanya lebih sensitif terhadap pergerakan tertentu.
