Data menunjukkan bahwa sekitar 70–75 persen impor LPG Indonesia saat ini berasal dari Amerika Serikat, sementara sekitar 20 persen masih dipasok dari Timur Tengah, dan sisanya berasal dari negara lain termasuk Australia. Komposisi ini mencerminkan adanya pergeseran pola impor yang semakin beragam. Diversifikasi ini tidak hanya meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam menghadapi fluktuasi harga dan pasokan di pasar internasional.
Di sisi lain, pemerintah juga memastikan bahwa pasokan bahan bakar jenis solar telah sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri. Hal ini merupakan capaian penting dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Kemandirian dalam penyediaan solar menjadi indikator positif bagi penguatan sektor energi nasional.
Untuk minyak mentah, sekitar 20 persen kebutuhan impor sebelumnya berasal dari Timur Tengah. Namun, dengan adanya kebijakan baru, pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan dari berbagai negara melalui skema kerja sama jangka panjang. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas dengan negara mitra.
Baca Juga:Bahlil Buka Suara! Isu BBM Non-Subsidi Naik 10 Persen Mulai 1 April 2026, Ini FaktanyaGas LPG Sulit Didapat Dan Harganya Mahal
Secara keseluruhan, kebijakan pengalihan dan diversifikasi sumber impor energi yang dilakukan pemerintah mencerminkan langkah strategis dalam menjaga stabilitas pasokan nasional. Dengan mengurangi ketergantungan pada satu kawasan dan memperluas jaringan pasokan global, Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan energi di masa depan. Upaya ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi global.
