RADARCIREBON.TV – Nilai tukar dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatan terhadap rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut bahkan berhasil menembus level Rp 17.000-an, menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang domestik di tengah dinamika global.
Berdasarkan data perdagangan, pada Selasa pagi sekitar pukul 09.14 WIB, kurs dolar AS tercatat berada di posisi Rp 17.078. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 43 poin atau sekitar 0,25 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Penguatan dolar AS ini tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia Pasifik. Kondisi ini mencerminkan sentimen global yang masih cenderung mendorong penguatan dolar sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca Juga:Nilai Tukar Dolar As Tembus Lima Belas Ribu, BI Upayakan Metode Perlindungan Nilai TukarBukan Dolar AS, Ternyata Ini Mata Uang Tertinggi di Dunia dengan Tingkat Ekonomi Negara yang Makmur – Apakah Ada Rupiah?
Di kawasan Asia, dolar AS tercatat menguat terhadap won Korea Selatan sebesar 0,18 persen. Selain itu, mata uang tersebut juga mengalami penguatan terhadap dolar Singapura sebesar 0,16 persen serta ringgit Malaysia sebesar 0,24 persen. Bahkan, terhadap peso Filipina, dolar AS mencatatkan kenaikan hingga 0,32 persen.
Tidak hanya itu, dolar AS juga menunjukkan tren penguatan terhadap yuan China sebesar 0,10 persen dan terhadap yen Jepang sebesar 0,13 persen. Sementara itu, pergerakan yang berbeda terjadi pada beberapa mata uang lainnya, di mana dolar AS justru melemah tipis terhadap rupee India sebesar 0,04 persen serta terhadap dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun dolar AS secara umum menguat, pergerakannya tetap bervariasi tergantung pada kondisi ekonomi masing masing negara. Namun secara keseluruhan, tren penguatan dolar masih cukup dominan di pasar global.
Penguatan dolar AS terhadap rupiah sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat, kondisi geopolitik global, hingga arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat berdampak pada berbagai sektor. Salah satunya adalah meningkatnya biaya impor, terutama untuk bahan baku industri dan energi. Hal ini berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi domestik jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat.
