Harga Plastik Naik, Industri Beralih ke Bahan Baku Alternatif

Ilustrasi industri
Ilustrasi industri Foto : politama.co
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kenaikan harga plastik di dalam negeri kian terasa di tengah tekanan global dan tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi ini mendorong pelaku industri untuk mulai mencari alternatif pasokan guna menjaga keberlanjutan produksi di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung.

Asosiasi Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia menilai bahwa diversifikasi bahan baku menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda. Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat industri plastik nasional sangat rentan terhadap gejolak eksternal, termasuk konflik geopolitik dan gangguan distribusi global.

Sekretaris Jenderal INAPLAS, Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa struktur industri plastik nasional saat ini masih belum kuat dari sisi kemandirian bahan baku. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan nafta sebagai bahan dasar mencapai sekitar 3 juta ton per tahun dan seluruhnya masih dipenuhi melalui impor.

Baca Juga:Harga Plastik Naik 50% Imbas Konflik Timur Tengah, Pedagang Mulai TertekanHarga Plastik Naik Signifikan, Ini Penyebab dan Dampaknya ke Pelaku Usaha

Selain itu, kebutuhan bahan baku plastik seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), polystyrene (PS), hingga polyvinyl chloride (PVC) mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, dengan sekitar 50 persen di antaranya masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Menurut Fajar, kondisi ini membuat industri sangat sensitif terhadap gangguan distribusi, bahkan dalam skala kecil sekalipun. Ketika terjadi hambatan pada rantai pasok global, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh pelaku industri di dalam negeri, baik dari sisi harga maupun ketersediaan bahan baku.

Sebagai langkah antisipasi, pelaku industri mulai membuka opsi penggunaan bahan baku alternatif. Salah satu yang mulai dilirik adalah pemanfaatan gas LPG sebagai bahan baku pengganti. Kebijakan pemerintah yang menetapkan nol persen bea masuk untuk LPG dinilai dapat menjadi peluang untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga stabilitas pasokan.

Di sisi lain, pelaku industri juga mulai menjajaki kerja sama dengan negara negara alternatif untuk memperluas sumber bahan baku. Beberapa kawasan yang mulai dilirik antara lain Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Namun, langkah ini tidak lepas dari tantangan, terutama terkait waktu pengiriman atau lead time yang relatif lebih lama, yakni bisa mencapai sekitar 50 hari.

0 Komentar