Meskipun demikian, penerimaan dari bea masuk masih menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 0,9 persen menjadi Rp11,5 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya nilai impor serta pergerakan nilai tukar rupiah yang turut memengaruhi besaran pungutan. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan internasional masih berjalan cukup stabil di tengah dinamika ekonomi global.
Selain dari sektor perpajakan, pendapatan negara juga didukung oleh Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp112,1 triliun serta hibah sebesar Rp100 miliar. Kontribusi ini menjadi pelengkap penting dalam struktur pendapatan negara, sekaligus menunjukkan diversifikasi sumber penerimaan pemerintah.
Secara keseluruhan, capaian pendapatan negara pada kuartal pertama tahun 2026 mencerminkan kondisi ekonomi yang mulai membaik dan stabil. Pertumbuhan penerimaan pajak yang signifikan menjadi indikator utama meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha. Meskipun terdapat beberapa sektor yang mengalami penurunan, seperti kepabeanan dan cukai, kinerja pendapatan negara secara agregat tetap menunjukkan tren yang positif.
Baca Juga:Menkeu Purbaya Yudhi Enggan APBN Untuk Bayar Utang Kereta CepatBakal Panas! Purbaya Tolak APBN Bayar Utang Whoosh: “Jangan Kalau Enak Swasta, Kalau Enggak Enak Government!”
Ke depan, pemerintah diharapkan dapat terus menjaga momentum ini melalui kebijakan fiskal yang adaptif dan responsif terhadap dinamika ekonomi. Dengan pengelolaan yang tepat, pendapatan negara tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan pembangunan, tetapi juga sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
