RADARCIREBON.TV- Dengan kehadiran kendaraan listrik berbasis baterai, persaingan di segmen mobil Rp 100 jutaan hingga Rp 200 jutaan semakin ketat. Sebelum kedatangan BYD Atto 1, konsumen memiliki lebih banyak pilihan, menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi mobil LCGC seperti Honda Brio Satya.
Uji kehematan antara BYD Atto 1 dan Honda Brio Satya oleh Kompas.com menunjukkan perbedaan signifikan dalam biaya operasional harian. Meskipun mobil listrik menawarkan efisiensi yang lebih tinggi, beberapa faktor lain perlu menjadi pertimbangan konsumen sebelum memutuskan.
BYD Atto 1 dibekali motor listrik dengan kekuatan sekitar 75 TK dan torsi 135 Nm. Mobil ini tersedia dalam dua varian jarak tempuh, yaitu 300 km dan 380 km untuk sekali pengisian daya. Berdasarkan pengujian, Atto 1 mencatatkan efisiensi konsumsi listrik hingga 8,5 km per kWh. Angka ini dapat berubah tergantung pada kondisi lalu lintas, gaya berkendara, serta beban kendaraan.
Baca Juga:Jadwal Sepak Bola Malam Ini 8-9 April 2026, Live Pertandingan UCL AFF Futsal, dan UELLive MNCTV Siang Ini! Jam Tayang Pertandingan Timnas Futsal Indonesia vs Australia Piala AFF Futsal 2026
Sementara itu, Honda Brio Satya mengandalkan mesin bensin 1.200 cc yang menghasilkan daya 90 TK dan torsi 110 Nm. Dikenal ringan dan efisien, Brio sangat cocok untuk penggunaan harian di perkotaan. Konsumsi bahan bakarnya bervariasi antara 16 km per liter hingga 20 km per liter, menempatkannya sebagai salah satu mobil bensin paling irit di kelasnya.
Simulasi Biaya Operasional Bulanan
Untuk memberikan gambaran yang adil, dilakukan simulasi penggunaan harian pulang-pergi Bogor-Jakarta dengan jarak 100 km hingga 120 km selama 30 hari, sehingga total jarak tempuh bulanan berkisar 3.000 km hingga 3.600 km.
Dengan harga Pertamax Rp 12.300 per liter, Honda Brio memerlukan sekitar 150 hingga 225 liter bensin per bulan, yang setara dengan biaya bahan bakar antara Rp 1,84 juta hingga Rp 2,77 juta.
Di sisi lain, BYD Atto 1 membutuhkan sekitar 353 hingga 424 kWh listrik per bulan. Apabila diisi daya di rumah dengan tarif Rp 1.444 per kWh, biaya listriknya berkisar Rp 509.000 hingga Rp 612.000. Jika pengisian dilakukan di SPKLU dengan tarif sekitar Rp 2.400 hingga Rp 2.500 per kWh, biayanya akan meningkat menjadi Rp 847.000 hingga Rp 1,06 juta per bulan. Meskipun demikian, biaya ini tetap jauh lebih hemat dibandingkan mobil bensin.
