RADARCIREBON.TV- Kalau kamu pernah pakai HP jadul seperti Nokia 3310 atau ponsel Ericsson, pasti tahu banget kalau perangkat zaman dulu itu terkenal super awet. Dipakai bertahun-tahun juga masih jalan, bahkan jatuh berkali-kali pun tetap hidup.
Beda banget sama HP zaman sekarang seperti iPhone atau Samsung Galaxy yang umumnya cuma dipakai 2–3 tahun sebelum mulai terasa bermasalah.
Salah satu alasan utamanya adalah soal desain. HP modern sekarang dibuat makin tipis, canggih, dan serba “menyatu”. Kedengarannya keren, tapi ada efek sampingnya: jadi susah banget diperbaiki.
Baca Juga:Diam-Diam Ngebut! Ducati Uji Motor 850cc untuk MotoGP 2027, Era Baru DimulaiLink Live Streaming Bayern vs Real Madrid: Duel Sengit Penentuan Semifinal Liga Champions 2026
Kalau ada kerusakan, misalnya baterai mulai drop atau layar retak, proses servisnya nggak semudah dulu. Bahkan dalam banyak kasus, biaya perbaikan bisa hampir sama dengan beli HP baru.
Belum lagi perkembangan aplikasi sekarang yang makin berat. Walaupun HP keluaran terbaru punya RAM dan storage besar, aplikasi juga ikut “rakus” daya. Ditambah layar yang makin lebar dan sensitif, risiko kerusakan seperti LCD rusak atau baterai cepat habis jadi makin sering terjadi.
Masalahnya nggak cuma dari sisi teknis, tapi juga dari kebijakan produsen. Banyak brand sekarang yang bikin aturan yang bikin pengguna makin susah memperbaiki HP sendiri.
Misalnya, kalau kamu servis di tempat non-resmi, garansi bisa langsung hangus. Ini bikin pengguna jadi “terpaksa” harus ke service center resmi yang biasanya lebih mahal.
Karena kondisi ini, muncul gerakan yang disebut Right to Repair di Uni Eropa. Intinya, konsumen punya hak untuk memperbaiki barang miliknya sendiri. Pemerintah di sana bahkan mulai mewajibkan perusahaan teknologi untuk lebih transparan, termasuk menyediakan informasi teknis dan akses komponen.
Dari data yang dikumpulkan US PIRG Education Fund dalam laporan “Failing the Fix”, ternyata nggak semua merek HP punya tingkat kemudahan perbaikan yang sama.
Hasilnya cukup menarik:
- Motorola: B+ (relatif mudah diperbaiki)
- Google: C-
- Samsung: D
- Apple: D- (paling sulit diperbaiki)
Kenapa Apple bisa dapat nilai paling rendah? Salah satu alasannya adalah sistem software dan kebijakan mereka yang cukup ketat. Apple menggunakan sistem “pairing” komponen, jadi kalau ada bagian tertentu diganti bukan dari sistem resmi, fitur tertentu bisa nggak berfungsi.
