Setelah bisa menenangkan diri, Messi buka suara. Dalam wawancara pasca-pertandingan, ia tidak mencari-cari alamat kambing hitam. Dengan jujur dan rendah hati, ia mengakui keunggulan lawan.
“Saya merasa sedih, tapi saya tahu kami sudah bertarung dengan sepenuh hati. Sejujurnya, Spanyol bermain lebih baik. Kami kalah, dan kami menerima hasil itu.”
Messi juga tidak melupakan perjalanan panjang timnya. “Itu tidak berarti kami akan melupakan semua yang telah kami capai sejauh ini. Saya ingin berterima kasih kepada rakyat saya, rekan-rekan setim saya, dan negara ini.”
Baca Juga:Final Piala Dunia 2026 Diwarnai Kericuhan, Leandro Paredes Diusir usai Cekik Garcia dan Banting GaviSpanyol Juara, Argentina Runner-up! Simak Rincian Hadiah Uang Juara 1,2, 3 Piala Dunia 2026
Pernyataan Messi ini menjadi penyeimbang di tengah amarah dan aksi tidak sportif yang dilakukan beberapa rekannya. Ia menunjukkan bahwa meskipun hati hancur, seorang juara sejati tetap bisa mengakui keunggulan lawan.
Catatan Rekor dan Spekulasi Masa Depan
Final ini menyimpan banyak catatan penting bagi Messi. Ia menjadi pemain pertama dalam sejarah yang tampil di tiga final Piala Dunia yang berbeda (2014, 2022, 2026). Dengan delapan gol dan empat assist sepanjang turnamen, ia memimpin Argentina ke final untuk ketiga kalinya dalam empat edisi terakhir.
Namun, ada juga rekor yang lepas. Kylian Mbappe yang mencetak dua gol di perebutan tempat ketiga, berhasil melampaui total 21 gol Messi di Piala Dunia dengan koleksi 22 gol. Meski begitu, total 125 golnya untuk Argentina tetap menjadi pencapaian luar biasa, hanya kalah dari Cristiano Ronaldo (146).
Kini, pertanyaan terbesar yang menggantung adalah: akankah ini menjadi penampilan terakhir Messi di Piala Dunia?
Pada usia 39 tahun, tampil di Piala Dunia 2030 yang akan digelar saat ia berusia 43 tahun tampaknya sangat mustahil. Messi sendiri belum memberikan jawaban pasti, dan pelatih Lionel Scaloni mengaku belum sempat berbicara dengannya perihal masa depan di tim nasional. Scaloni, yang juga dilanda kesedihan, bahkan menyiratkan ketidakpastiannya sendiri di kursi kepelatihan.
Terlepas dari apa yang akan terjadi, satu hal yang pasti: malam di New Jersey itu akan dikenang bukan hanya karena kekalahan, tetapi juga karena reaksi seorang legenda yang menunjukkan bahwa menjadi yang terbaik bukan hanya tentang trofi, tetapi juga tentang bagaimana kita menyikapi kekalahan. Messi pulang dengan medali perak dan air mata, tetapi ia juga pulang dengan martabat yang tak ternilai.
