Alasan Kenapa Emas Batangan Dianggap Sebagai "Sahabat Karib" Koruptor dan Pelaku Pencucian Uang?

Emas
Ilustrasi Emas Batangan dan Uang (istockphoto)
0 Komentar

“Bisnis jual beli emas memberi kesempatan kepada para penjahat untuk mengubah emas curian menjadi uang tunai tanpa harus membuktikan kepemilikan atas emas bekas yang ditawarkan untuk dijual,” tulis laporan tersebut.

Dalam investigasi modern, nomor seri emas memang hanya salah satu titik awal penelusuran. Penyidik biasanya menggabungkan berbagai sumber informasi, mulai dari catatan transaksi, dokumen pembelian, rekaman CCTV, data komunikasi, hingga analisis aliran dana. Karena itu, peleburan emas tidak otomatis menghapus seluruh jejak kejahatan, meskipun dapat mempersulit proses penelusuran asal-usul fisik logam tersebut.

Dalam praktik pencucian uang, perubahan bentuk aset memang menjadi salah satu metode yang digunakan untuk menyamarkan asal-usul harta. Namun keberhasilan pelacakan tidak hanya bergantung pada bentuk fisik emas, melainkan juga pada dokumen transaksi, rantai distribusi, dan alat bukti lain yang dikumpulkan penyidik.

Baca Juga:Wilujeng Sumping! Mariano Peralta Resmi Gabung Persib, Pemain Terbaik Musim Lalu Siap Memperkuat Maung BandungJadwal Pertandingan Timnas Indonesia vs Laos Final AFF Women's Cup 2026, Kapan Main dan Tayang di Mana?

Mengapa Manusia Selalu Percaya pada Emas?

Ketahanan kimia dan kemudahan peleburan belum sepenuhnya menjelaskan mengapa emas dipercaya sebagai penyimpan kekayaan. Jawabannya juga berkaitan dengan bagaimana manusia memersepsikan warna, kilau, dan nilai emas sejak lama.

Berbeda dari kebanyakan logam yang tampak keperakan, emas terlihat kuning karena efek relativistik pada elektron-elektronnya. Elektron bergerak sangat cepat sehingga mengubah cara atom emas menyerap dan memantulkan cahaya. Akibatnya, emas menyerap spektrum biru dan memantulkan cahaya kuning yang khas.

Sejumlah hipotesis dalam psikologi evolusioner menyebut manusia berevolusi untuk peka terhadap kilau dan warna-warna hangat yang berkaitan dengan sumber daya penting. Kilau emas diduga memanfaatkan kecenderungan persepsi tersebut sehingga mudah dikaitkan dengan nilai dan perlindungan.

Menurut Griskevicius dan Kenrick dalam kajian bertajuk “Fundamental Motives: How Evolutionary Needs Influence Consumer Behavior” (2013), preferensi, perilaku, dan cara seseorang mengambil keputusan berubah secara sistematis sesuai dengan motif dasar yang sedang dominan. Ketika motif perlindungan diri aktif, orang cenderung menghindari kerugian, memilih opsi yang dianggap lebih aman, dan mengurangi pengambilan risiko.

Bagi koruptor maupun pelaku kejahatan finansial lainnya, kecenderungan psikologis seperti itu dapat membantu menjelaskan mengapa aset yang dipersepsikan stabil menjadi lebih menarik daripada instrumen yang mudah bergantung pada sistem keuangan. Bagi mereka, rekening bank dapat dibekukan, sementara aset digital mudah ditelusuri. Pada titik ini, emas menawarkan sesuatu yang berbeda: benda fisik yang dapat disimpan dan dipindahkan tanpa bergantung pada jaringan elektronik.

0 Komentar