RADARCIREBON.TV– Kasus dugaan pelecehan yang dialami seorang penyanyi dangdut asal Kabupaten Majalengka mendapat perhatian dari kalangan seniman dan musisi. Mereka menyayangkan dugaan tindakan tersebut terjadi saat korban sedang menjalankan profesinya sebagai pengisi acara. Salah seorang master of ceremony (MC), Dimaz Candra, mengatakan tindakan yang diduga dilakukan pemain keyboard berinisial K tersebut tidak sepatutnya terjadi di lingkungan seniman.
Seniman Seharusnya Saling Menjaga dan Melindungi
Menurut Dimaz, para pelaku seni seharusnya saling menjaga dan menghormati, terlebih ketika sedang menjalankan pekerjaan untuk menghibur masyarakat. “Seharusnya seniman itu sama-sama menjaga dan melindungi. Kita di sana sedang bekerja mencari nafkah. Tapi justru malah dikotori atau dicoreng dengan tindakan yang tidak sepantasnya,” tegas Dimaz, Rabu (16/9/2026).
Dimaz yang kerap menjadi pembawa acara dalam berbagai kegiatan di Kabupaten Majalengka menegaskan, panggung hiburan merupakan ruang kerja bagi penyanyi, MC, maupun musisi. “Kalau di panggung itu kita sedang bekerja. Baik itu sebagai penyanyi, MC, atau musisi, dan kita sama-sama bekerja,” terangnya. Ia mengatakan setiap seniman harus memahami batasan dan koridor dalam menjalankan profesinya. Tugas seniman, kata dia, adalah menghibur sekaligus menjaga nama baik kelompok, brand, dan profesi yang dijalani.
Baca Juga:Cara Beli Tiket Konser BIGBANG di Jakarta 2027, Dibuka Mulai Besok 17 September 2026KONI Kabupaten Cirebon Siap Dipanggil DPRD Bahas Tarif Parkir dan Pengelolaan Stadion Watubelah
Soroti Respons Warganet yang Terburu-buru
Dimaz juga menyoroti respons warganet setelah video kejadian tersebut viral di media sosial. Ia menyayangkan adanya komentar yang menurutnya muncul hanya berdasarkan potongan video tanpa mengetahui kejadian secara utuh. “Padahal realitanya tidak seperti itu. Karena korban pun punya suami, punya anak, punya keluarga. Itu sebenarnya tidak seperti hujatan para netizen,” tegasnya.
Menurut Dimaz, pemahaman terhadap kronologi secara utuh penting agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap korban. “Korban sejatinya melawan, namun memang di luar kendali dia. Akhirnya kena sama si pelaku. Yang kedua kalinya sampai tangannya ditarik. Yang ketiga kalinya dia berontak. Dari berontaknya itu kemudian ke belakang dan di sana katanya masih dimaki-maki sama pelaku,” imbuhnya.
Dugaan Ancaman kepada Korban
Selain dugaan perlakuan tersebut, Dimaz juga menyebut adanya dugaan ancaman yang disampaikan K kepada korban. Menurutnya, hal itu diketahui sejumlah orang yang berada di lokasi kejadian. “Saya selaku rekan sesama seniman dan musisi sangat menyayangkan sekali apa yang dilakukan oleh pelaku. Bahkan ada juga ancaman, ‘awas saja kalau seandainya ketemu lagi sama saya’. Itu kan berarti masuk ancaman. Sedangkan yang namanya seniman itu pasti di mana pun akan bertemu,” ujarnya.
