FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out): Menggali Lebih Dalam tentang Dua Fenomena Emosional Modern

fomo dan jomo
fomo dan jomo/ sumber foto: dictio.id
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out): Menggali Lebih Dalam tentang Dua Fenomena Emosional Modern.

Dalam era di gital dan konektivitas yang terus berkembang, istilah-istilah baru muncul

untuk menggambarkan pengalaman emosional manusia terhadap kehidupan sosial dan aktivitas di sekitarnya.

Baca Juga:Tembus Banten sampai Jawa Timur, Jalan Pansela Jawa Siap Kawal Pemudik Lebaran 2024 dengan View PantaiSah! Tanggal 11 Maret, Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 1445 H/ 2024 M

Salah satu fenomena yang mendapatkan perhatian luas adalah FOMO (Fear of Missing Out) dan kontrastnya, JOMO (Joy of Missing Out).

Kedua istilah ini mencerminkan perubahan dinamika sosial dan psikologis yang terjadi di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.

FOMO (Fear of Missing Out):

FOMO, atau Ketakutan Ketinggalan, adalah fenomena psikologis yang muncul ketika seseorang

merasa cemas atau khawatir bahwa mereka sedang melewatkan pengalaman atau aktivitas yang sedang terjadi.

Hal ini sering terkait erat dengan penggunaan media sosial, di mana seseorang melihat postingan teman atau konten populer

dan merasa bahwa kehidupan mereka kurang seru atau kurang berarti di bandingkan dengan orang lain.

Perasaan FOMO dapat memicu perilaku impulsif, seperti partisipasi dalam acara atau kegiatan hanya untuk menghindari perasaan ketinggalan.

Baca Juga:Gacoanku Gak Perlu Jauh-jauh ke Cirebon Ya! Mie Gacoan Siap Buka Cabang Majalengka, Ada Lowongan untuk Fresh GraduateFlagship 5 Jutaan POCO X6 5G, Warna Lebih Ekspresif dengan Tiga Varian Klasik Modern

Orang yang menderita FOMO mungkin merasa terus-menerus perlu untuk terlibat dalam semua hal yang sedang tren,

tanpa mempertimbangkan apakah itu sesuai dengan keinginan atau nilai-nilai pribadi mereka.

FOMO juga dapat memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan mental, karena individu dapat merasa tertekan atau tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri.

Pembandingan terus-menerus dengan kehidupan orang lain di media sosial dapat menciptakan citra

yang tidak realistis dan menambah tekanan pada individu untuk selalu berpartisipasi dalam hal-hal yang sedang tren.

JOMO (Joy of Missing Out):

Di sisi lain, JOMO, atau Kesenangan Ketinggalan, merupakan konsep yang lebih positif.

JOMO mengacu pada kegembiraan atau kepuasan yang di rasakan ketika seseorang memilih

untuk melewatkan suatu aktivitas atau peristiwa tanpa merasa cemas atau menyesal.

Ini sering di hubungkan dengan sikap yang lebih di sadari terhadap kehidupan dan keputusan

untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan berarti bagi individu tersebut.

Orang yang mengalami JOMO mungkin memiliki kemampuan untuk menentukan batasan pribadi dan menilai prioritas hidup mereka dengan lebih bijaksana.

Mereka mungkin merasa puas dengan menghabiskan waktu sendirian atau melakukan aktivitas yang benar-benar mereka nikmati,

tanpa tekanan untuk selalu terlibat dalam semua yang sedang tren atau populer.

Adopsi JOMO bisa menjadi strategi penting dalam mengelola stres dan kelelahan mental.

Dengan menghargai waktu sendiri dan tidak terjebak dalam tekanan sosial untuk selalu terlibat dalam setiap aktivitas,

individu dapat menemukan keseimbangan yang lebih sehat dalam hidup mereka.

FOMO dan JOMO adalah dua fenomena emosional modern yang mencerminkan kompleksitas interaksi manusia dengan dunia di gital.

Meskipun FOMO mungkin menimbulkan kecemasan dan perasaan tidak puas,

JOMO menawarkan perspektif yang lebih positif dan menekankan pentingnya menghargai momen keheningan dan ketenangan.

Dalam menghadapi di namika sosial yang terus berubah, pemahaman terhadap FOMO dan JOMO

dapat membantu individu mengelola pengalaman emosional mereka dengan lebih bijaksana dan seimbang.

0 Komentar