Dan tentu, tak bisa dilupakan Yan Ediyana—yang saat ini menjabat Plt Sekda. Meski statusnya sementara, penunjukan ini memberi sinyal bahwa Yan dianggap cukup stabil untuk mengawal transisi. Jika tak ada arus besar dari luar, bisa jadi Yan yang kemudian ditetapkan sebagai definitif.
Namun, dinamika ini tak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi sebelumnya. Mutasi Hilmy ke DPMPTSP bukan sekadar rotasi jabatan. Ini sinyal politik yang menunjukkan Bupati tengah menyusun ulang peta kekuasaan birokrasi. Dalam narasi yang beredar, Hilmy dinilai terlalu hati-hati, kurang fleksibel, dan tak cukup agresif mengeksekusi program prioritas di awal periode kedua. Padahal, waktu tak lagi panjang untuk meninggalkan warisan besar di Cirebon.
Mutasi ini pun membuka peluang bagi figur baru yang bukan hanya cakap, tetapi juga “seirama”. Loyalitas bukan sekadar kesetiaan personal, tapi sinkron dalam menjalankan visi politik dan proyek besar. Dalam sistem birokrasi modern, kecepatan kadang lebih penting dari kehati-hatian.
Baca Juga:Mutasi Sekda Cirebon: Antara Ketidakharmonisan atau Strategi Politik Bupati Imron?Posisi Sekda di Jabat PLT, Bupati Imron Siapkan Tahapan Pengisian Sekda dan Empat Posisi Kepala Dinas
Kini, semua mata menanti siapa yang akan berdiri di titik pusat birokrasi Kabupaten Cirebon. Apakah figur kuat seperti Hendra yang akan naik? Atau justru ada kejutan dari nama-nama teknokrat lain? Yang jelas, jabatan Sekda bukan sekadar posisi administratif. Ia adalah jantung koordinasi, penyeimbang kebijakan, dan wajah dari arah pemerintahan.
Bupati Imron mungkin belum banyak bicara. Tapi pilihannya nanti akan mengungkapkan banyak hal: tentang siapa yang ia percaya, siapa yang ia siapkan, dan ke mana arah kapal besar Kabupaten Cirebon akan berlayar.
Dan dari semua nama, posisi paling kuat ada di Hendra Nirmala.