RADARCIREBON.TV – Petani yang tinggal di Desa Legok, Bantarkawung, Brebes, yang sebelumnya sangat bergantung pada musim hujan untuk pertanian, kini merasakan kebahagiaan setelah menerima bantuan sistem irigasi dari TNI Angkatan Darat.
Pada hari Selasa, 5 Agustus 2025, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak bersama Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, secara resmi meluncurkan bantuan tersebut. Dengan adanya sistem irigasi baru, masyarakat Desa Legok, Bantarkawung, Brebes, tidak perlu lagi hanya mengandalkan hujan untuk bercocok tanam.
Maruli menjelaskan bahwa proyek ini merupakan hasil kerja sama antara TNI AD, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta Kementerian PUPR dan Kementerian Pertanian. Ia menambahkan bahwa distribusi air untuk pertanian ini memiliki dampak besar. Manfaatnya tidak hanya untuk meningkatkan hasil pangan, tetapi juga untuk mengurangi kemiskinan dan masalah stunting.
Baca Juga:Kebanggaan Jateng! Ekonomi Melesat 5,28%, Dunia Usaha Ikut Merasakan ManfaatGubernur Jateng Minta Bupati Pati Kaji Ulang Kenaikan PBB P2 250 Persen!
“Kami sering membahas tentang air, mulai dari air bersih, sanitasi, hingga irigasi pertanian, karena semua itu berhubungan langsung dengan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Dengan pasokan air yang cukup, para petani yang biasanya hanya bisa panen padi sekali setahun, kini dengan sistem pengairan ini, dapat menikmati panen hingga tiga kali dalam setahun, sehingga pendapatan mereka dapat meningkat dua kali lipat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengucapkan terima kasih kepada KSAD atas dukungan mereka dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. “Masyarakat Desa Legok sangat bersyukur. Ini adalah bagian dari usaha kita untuk menjaga Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional,” kata Gubernur.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama dengan TNI telah dilakukan melalui program karya bakti, mencakup 615 titik pengadaan pipa dan 475 titik pemompaan. Dengan aliran air irigasi ke ratusan hektare lahan sawah di Brebes, para petani kini memiliki harapan baru untuk dapat menanam dan panen lebih dari satu kali dalam setahun. Model ini diharapkan bisa diterapkan di daerah lainnya.
“Mudah-mudahan ini menjadi contoh dan dorongan bagi daerah lain untuk mempercepat sistem pengairan di sawah tadah hujan,” tutup Luthfi.
Salah satu petani dari Kelompok Tani Mekar Mukti Brebes, Suharti, mengungkapkan kebahagiaannya dengan adanya sistem irigasi di daerahnya. “Sebelumnya kami harus menunggu hujan untuk mulai menanam, sekarang air mengalir jadi bisa langsung tanam,” ujarnya.
