RADARCIREBON.TV – Santiago Bernabéu sempat membeku. Para fans Real Madrid yang biasanya penuh percaya diri mendadak bungkam saat papan skor menunjukkan 0-1 untuk Mallorca. Ya, tim kaya sejarah dan gelar itu, dengan segala taburan bintang di dalamnya, ternyata masih bisa kecolongan dengan cara yang sangat sederhana: gol menit ke-18 dari Vedat Muriqi.
Madridistas di tribun sempat terdiam. Mereka seperti tidak percaya, sekelas Real Madrid, pemilik 14 gelar Liga Champions, bisa kebobolan dari tim yang seharusnya datang sebagai “penggembira.” Mallorca datang tanpa beban, hanya dengan modal kerja keras dan sedikit keberanian. Dan benar saja, satu serangan efektif langsung menampar wajah Real Madrid yang baru saja berusaha membangun aura dominasi di kandang sendiri.
Namun, masalah bagi Mallorca adalah: mereka terlalu cepat membangunkan monster yang tidur. Real Madrid memang bisa lengah, tapi mereka bukan tim yang akan diam terlalu lama. Tidak ada kamusnya Bernabéu jadi tempat lawan berpesta pora. Mallorca terlalu gegabah jika berpikir gol Muriqi bisa jadi pembuka pesta mereka.
Baca Juga:Kejutan! Real Madrid Kecolongan Sepak Pojok Mallorca: Skor Sementara 0-1Prediksi Skor, Link Streaming Real Madrid vs Mallorca, Kick Off 02.30 WIB
Jawaban Real Madrid datang di menit ke-37. Adalah Arda Güler, si bocah ajaib dari Turki, yang mengembalikan marwah Bernabéu. Proses gol ini tidak sekadar indah, tapi juga menyakitkan bagi Mallorca, karena mereka dipermainkan dalam tempo singkat.
Skemanya berawal dari sepak pojok pendek. Mastantuono, remaja 17 tahun yang disebut-sebut sebagai “harta karun baru Madrid,” memainkan bola pendek ke Trent Alexander-Arnold. Bek kanan mahal itu tidak egois, ia mengembalikan bola lagi ke Mastantuono, yang kemudian menemukan celah untuk mengirim bola ke Carreras.
Carreras, yang seperti mesin tanpa henti di sisi kiri, mengirim bola ke tiang jauh. Di sana berdiri Dean Huijsen, bek muda jangkung yang entah bagaimana bisa begitu bebas tanpa kawalan. Huijsen tidak menembak, ia justru menyontek bola dengan kepala ke arah yang lebih berbahaya. Dan berdirilah Arda Güler, tanpa penjagaan, hanya menunggu momen.