RADARCIREBON.TV – Rp 24,6 miliar raib bukan karena perampok bersenjata, melainkan karena ulah seorang staf administrasi bank pemerintah. Tujuh tahun lamanya, uang itu ditelan dalam diam, disulap jadi Vespa batik, tas mewah, dan pameran gaya hidup. Kini, sang pelahap dana bernama MY resmi berakhir di balik jeruji besi.
Malam itu, Rabu (1/10), halaman Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Cirebon seolah jadi panggung yang tak pernah diminta. Sorot lampu kamera wartawan menembus wajah seorang perempuan berinisial MY. Dengan rompi tahanan merah muda yang lebih mirip ironi ketimbang pakaian, ia digiring menuju mobil tahanan. Masker menutupi wajahnya, tatapannya tertunduk, langkahnya gontai.
Tak ada pidato pembelaan, tak ada isak tangis. Hanya diam yang terasa lebih bising daripada teriakan.
Baca Juga:4 Pendamping Tersangka Korupsi Pajak Apbdes Dari 80 Desa – Video7 Tersangka Termasuk Mantan Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis Dugaan Korupsi Pembangunan Gedung Setda Cirebon
Kepala Kejari Kabupaten Cirebon, Yudhi Kurniawan, membongkar modus yang dipakai MY. Tidak ada pistol, tidak ada ancaman, hanya kecerdikan memanfaatkan celah sistem.
“Dari hasil penyidikan, perbuatan tersangka dilakukan berulang dan rapi. Ada lebih dari 280 transaksi mencurigakan sejak 2018 hingga 2025,” ujarnya dalam konferensi pers.
Caranya sederhana tapi mematikan. Ia menggeser dana dari satu rekening penampung ke rekening lain pada jam-jam tertentu, agar tak terdeteksi sistem. Untuk menutup jejak, dokumen palsu dan narasi fiktif diproduksi. Satu transaksi mungkin terlihat sepele, tapi ratusan kali pengulangan menjadikannya monster.
Pertanyaan yang menggantung: bagaimana mungkin seorang staf administrasi bisa leluasa menilap miliaran rupiah selama bertahun-tahun tanpa ada alarm? Apakah benar sistem seceroboh itu, ataukah ada mata yang sengaja terpejam?
Hasil korupsi itu kini dipajang bak etalase di meja konferensi pers. Satu unit Hyundai Stargazer, sebuah Vespa edisi batik bernilai Rp 61 juta, iPhone 12 Pro Max, dompet Louis Vuitton senilai Rp 10 juta, dan tas bermerek MCM. Tak ketinggalan uang tunai Rp 131,9 juta yang sempat diblokir.
Barang-barang itu, yang dulunya mungkin dipakai MY untuk pamer status, kini justru menjadi bukti telanjang betapa rakusnya manusia bisa mengorbankan integritas hanya demi gengsi. Ironisnya, merek-merek internasional itu justru terlihat lebih menyedihkan saat dipajang sebagai barang bukti ketimbang di lemari kaca butik.
