Christian Vieri, mantan bomber Inter Milan dan timnas Italia, mungkin satu-satunya pesepakbola yang mengaku akan “pindah olahraga” jika ada tawaran setara di kriket. Ia besar di Australia, tempat kriket sangat populer, dan sejak kecil sudah jatuh cinta pada olahraga itu.
Meski akhirnya memilih sepak bola dan menjadi salah satu striker top Eropa, Vieri selalu mengingat masa kecilnya bermain kriket di pantai. Ia bahkan pernah bercanda bahwa “kriket membuat saya lebih bahagia daripada konferensi pers sepak bola.” Baginya, hidup bukan hanya tentang gol, tapi juga tentang kebebasan memilih.
Refleksi: Ketika Cinta pada Sepak Bola Tak Harus Total
Kisah enam pemain ini membuka mata kita bahwa kecintaan terhadap sepak bola tidak harus seragam. Mereka adalah bukti bahwa bahkan di level tertinggi, seseorang bisa menjadi profesional tanpa harus menghabiskan setiap jam hidupnya untuk permainan yang sama.
Beberapa alasan di balik sikap ini bisa dipahami.
•Profesionalisme vs. Kesenangan Pribadi
Baca Juga:Penggemar Sepak Bola Wajib Tonton! Ronaldinho Muncul di Iklan Terbaru Shopee!Cetak 44 Gol, Tapi Gagal Juara! Mbappe Dapat Sindiran Halus dari Gareth Bale
Banyak pemain melihat sepak bola sebagai pekerjaan yang menuntut fokus ekstrem. Menonton pertandingan lain bisa terasa seperti perpanjangan dari pekerjaan, bukan hiburan.
1. Tekanan Publik dan Mental Fatigue
Dengan ekspektasi tinggi dari klub, suporter, dan media, banyak pemain memilih menjauh dari dunia bola saat di luar jadwal latihan sebagai bentuk perlindungan diri.
2. Keseimbangan Hidup dan Hobi Lain
Golf, polo, film, hingga kriket menjadi pelarian dari tekanan. Dengan menekuni hobi lain, para pemain menjaga keseimbangan mental dan menemukan makna hidup di luar sepak bola.
Kesimpulan
Superstar tidak selalu berarti penggemar sejati sepak bola. Untuk Gareth Bale, Carlos Tevez, Batistuta, Vela, Ronaldinho, dan Christian Vieri, sepak bola adalah karier, bukan seluruh hidup. Mereka bermain dengan keahlian luar biasa, mencetak sejarah, dan menghibur jutaan orang, tapi juga mengajarkan kita bahwa manusia, bahkan di level tertinggi, butuh ruang untuk bernapas.
Di antara sorak penonton dan kilatan kamera, mereka menemukan ketenangan di tempat lain, di lapangan golf, di bioskop, atau di padang polo. Dan mungkin, di sanalah mereka benar-benar menjadi diri sendiri, bukan sekadar bintang, tapi manusia biasa yang sesekali butuh hening setelah sorotan lampu padam.
