Bukan cuma pelatih yang terpikat. Witan Sulaeman, salah satu pemain kunci Persija, mengaku bahwa kemenangan malam itu adalah buah dari instruksi sang pelatih dan keberanian tim untuk bermain terbuka.
•Kutukan Pecah, Semangat Terus Menyala
Sebelum laga ini, persiapan psikologis Persija tidak bisa dianggap remeh. Rio Fahmi, pemain bertahan Macan Kemayoran, mengakui bahwa satu dari motivasi terbesar tim adalah “memecahkan kebuntuan” dan menepis anggapan bahwa Manahan adalah tempat angker.
Dengan kemenangan 3-0 itu, Persija tak hanya memecah kutukan di Manahan, tapi juga langsung memuncaki klasemen sementara, mengukir awal manis di musim Super League 2025/2026.
•Atmosfer Solo: Lebih dari Sekadar Stadion
Baca Juga:Drama Hingga Detik Akhir! Belanda Kunci Tiket Piala Dunia 2026 Lewat Performa Paling Mematikan dalam 1 DekadeMemanfaatkan Gemini AI untuk Membuat Edit Rumah Horor Demi Prank Teman Begini Fenomenanya
Manahan bukan sekadar tempat bermain. Dengan kapasitas sekitar 20.000 penonton, stadion ini punya jiwa dan sejarah. Solo sebagai kota juga memberi warna tersendiri: fanatisme suporter lokal, tradisi sepak bola yang kental, dan fasilitas yang terus ditingkatkan.
Souza juga menyebut hotel tempat timnya menginap sebagai “luar biasa”, menegaskan bahwa Persija merasa diterima dengan hangat di kota Solo.
•Makna Romantis dalam Setiap Tendangan
Jika “romantisme Persija dan Persik di Stadion Manahan” menjadi tema awal, sebenarnya kisah malam itu lebih cocok disebut “romantisme Persija dan Solo”. Karena yang bermain bukan Persik Kediri seperti tema semula, melainkan Persis Solo. Meski demikian, cerita cinta ini tetap kuat: cinta dalam arti gairah, tekad, dan rasa hormat terhadap panggung yang ditaklukkan.
Dalam drama sepak bola Indonesia, malam itu di Manahan menjadi bab penting bagi Persija bukan sekadar soal angka di papan skor, tetapi soal keberanian menantang sejarah, memecahkan kutukan, dan menuliskan kisah baru. Stadion Manahan menjadi saksi bisu dari perjalanan romantis yang amat berharga bagi Macan Kemayoran.
