RADARCIREBON.TV – Para investor dan pemegang aset logam mulia nampaknya perlu meningkatkan kewaspadaan dalam waktu dekat. Berdasarkan dinamika pasar komoditas global terbaru, terdapat indikasi kuat bahwa harga emas dunia akan menghadapi tekanan yang cukup signifikan dalam jangka pendek. Meskipun emas sering dianggap sebagai aset aman atau safe haven, pergerakan pasar pada minggu kedua Januari 2026 ini menunjukkan adanya anomali yang dipicu oleh faktor teknis di lantai bursa internasional.
Penyebab utama dari potensi koreksi harga ini bersumber dari kebijakan pembobotan ulang atau penyeimbangan kembali yang dilakukan pada Indeks Komoditas Bloomberg (BCOM). Proses rebalancing tahunan ini merupakan prosedur standar yang dilakukan untuk menyesuaikan porsi aset dalam indeks tersebut agar tetap relevan dengan nilai pasar saat ini. Namun, untuk periode Januari 2026, analisis dari institusi keuangan raksasa Deutsche Bank menunjukkan bahwa emas menjadi salah satu aset yang paling terdampak secara negatif dari langkah penyesuaian tersebut.
Michael Hsueh, seorang analis senior dari Deutsche Bank, menjelaskan bahwa proses penyeimbangan ulang ini dijadwalkan berlangsung antara tanggal 9 hingga 15 Januari 2026. Selama periode lima hari perdagangan tersebut, diperkirakan akan terjadi aksi jual massal yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar 2,4 juta ons troy emas. Volume penjualan yang sangat besar dalam waktu singkat ini tentu saja memberikan beban berat pada sisi penawaran, sehingga secara otomatis akan menekan harga ke level yang lebih rendah.
Baca Juga:Kabar Gembira Bagi UMKM, Simak Jadwal dan Cara Pengajuan KUR Mandiri 20267 Amalan Nisfu Syaban 2026 yang Tak Boleh Terlewatkan!
Jika melihat secara historis pada produk-produk yang diperdagangkan di bursa, arus keluar modal dari instrumen emas akibat penyeimbangan indeks ini diperkirakan dapat menggerus nilai emas antara 2,5 persen hingga 3 persen dari harga saat ini. Dampak ini sangat kontras jika dibandingkan dengan beberapa komoditas lain seperti minyak mentah, gas alam, dan kakao yang justru diprediksi akan mendapatkan sentimen positif dan kenaikan bobot dalam indeks yang sama. Hal ini menciptakan pergeseran arus modal dari logam mulia menuju sektor energi dan pangan.
Walaupun data historis menunjukkan pola penurunan saat rebalancing, para pelaku pasar tetap harus mencermati anomali yang mungkin terjadi. Sebagai contoh, pada tahun 2025 lalu, emas sempat menunjukkan perlawanan dengan tetap menguat meskipun bobotnya dalam indeks dikurangi. Namun, untuk tahun 2026 ini, sentimen teknis nampaknya lebih condong pada potensi pelemahan. Oleh karena itu, bagi para kolektor emas batangan maupun trader emas digital, minggu ini menjadi momen krusial untuk memantau pergerakan pasar secara lebih ketat sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut. Penurunan ini memang diprediksi bersifat sementara, namun tekanannya cukup nyata untuk mengguncang portofolio dalam waktu dekat.
