RADARCIREBON.TV – Pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes mengaku heran dengan aktivitas belanja pemain yang masih deras pada bursa transfer Januari di Indonesia.
Fabio Lefundes, menyinggung tentang anomali Liga Indonesia yang minim terjadi di negara lain.
Diketahui, Fabio Lefundes adalah pelatih asal Brasil yang musim ini membesut Borneo FC di Super League 2025/2026.
Baca Juga:Proliga 2026: Jadwal Lengkap dan Hasil Pertandingan 8 Januari–26 April 2026Jadwal Lengkap Siaran Langsung Indonesia Masters 2026, 19–25 Januari di RCTI dan iNews
Tim berjulukan Pesut Etam itu sempat melenggang pada 11 laga pertama. Namun belakangan mengalami penurunan performa.
Klub asal Kaltim itu saat ini menduduki peringkat dua dengan 37 poin, satu poin di bawah Persib Bandung yang bertengger di puncak klasemen.
Pada bursa transfer Januari, Borneo FC dianggap semakin memperlemah tim untuk berkompetisi di jalur juara.
Bek sayap timnas U-23 Indonesia, Fajar Fathurrahman, malan dilepas pada rival langsung dalam perebutan gelar juara, Persija Jakarta.
Pemain pengganti pun tak diposisikan pada level yang sama, yakni bek senior 33 tahun Ardi Idrus.
Di samping itu, Borneo FC juga melepas Maicon serta memboyong Marcos Astina.
Pelatih Fabio Lefundes menyoroti aktivitas ramai di bursa transfer “musim dingin” ini sebelum pertandingan melawan Persis Solo, Jumat (23/1/2026) sore.
Baca Juga:Dihentikan Loh Kean Yew, Zaki Ubaidillah Tersingkir di Indonesia Masters 2026Gol Kontroversial Warnai Championship, Komite Wasit PSSI Buka Suara
“Saya selalu bilang di Liga Indonesia ini, pada saat selesai putaran pertama, dan ada bursa transfer. Ini adalah salah satu negara di mana ada banyak terjadi transfer pemain,” kata Fabio Lefundes.
“Kita tahu putaran pertama kami sangat bagus, ada banyak klub yang mau pemain kami, dan ada banyak pemain yang mau gabung kami,” lanjut dia.
Di kawasan Eropa, bursa transfer Januari menjadi periode yang lebih sepi daripada bursa transfer musim panas.
Hal ini lantaran, klub-klub cenderung menahan pemain sebab sedang diperlukan untuk menghadapi turnamen.
Di samping itu, mendatangkan pemain akan lebih sulit sebab umumnya pemain masih terikat kontrak, dan baru habis pada akhir musim.
Akan tetapi di Indonesia, kondisi itu tidak berlaku dengan pemain dan klub mudah saja menyepakati penyelesaian kontrak di tengah musim.
Pada kasus Borneo FC, kontrak Fajar bahkan selesai pada Desember, dan dia bisa pergi secara gratis.
