RADARCIREBON.TV – Beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat kini menghadapi kondisi cuaca yang cukup ekstrem, dengan hujan deras yang terus menerus mengguyur mulai hari Kamis (22/1) hingga pagi hari ini. Curah hujan yang tinggi dan tak kunjung mereda telah memicu terjadinya banjir serta genangan air di berbagai lokasi, mengganggu aktivitas keseharian ribuan masyarakat dan mengganggu jalur transportasi darat maupun rel kereta api.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa perkiraan pagi hari ini, sebanyak 187 lingkungan RT dan 21 ruas jalan di enam kabupaten maupun kota mengalami dampak banjir, dengan tinggi air berkisar antara 20 hingga 180 sentimeter. Kota Bandung menjadi daerah yang paling terpengaruh, dengan 62 RT tergenang air – khususnya di Kelurahan Cibiru yang dilanda banjir hingga ketinggian 180 cm. Kabupaten Bandung Barat melaporkan 45 RT terdampak, dengan titik terparah di kawasan Cicadas (21 RT), sedangkan Kabupaten Sumedang mencatat 38 RT terendam, Kabupaten Garut 25 RT, Kota Cimahi 12 RT, dan Kabupaten Tasikmalaya 5 RT.
Selain di pemukiman padat penduduk, banjir juga telah merendam beberapa ruas jalan utama seperti Jalan Soekarno-Hatta di Kota Bandung, Jalan Raya Cianjur-Sumedang, serta Jalan Raya Bandung-Cimahi, dengan tinggi air antara 15 hingga 75 cm. Kondisi ini memperlambat pergerakan kendaraan dan menyebabkan kemacetan hingga beberapa kilometer panjangnya. Layanan kereta api lokal juga mengalami gangguan di ruas lintasan Cimindi-Cicalengka akibat genangan air yang melintasi rel, sehingga beberapa jadwal perjalanan harus ditunda atau dialihkan ke jalur alternatif. Sebagian warga telah memutuskan untuk mengungsi ke fasilitas publik seperti masjid, balai desa, dan rumah ibadah lainnya agar terhindar dari genangan air yang masuk ke dalam hunian mereka.
Baca Juga:iPhone 18 Pro: Bocoran Spesifikasi, Desain, dan Harapan Pengguna yang DinantiVivo X300 Ultra: Flagship dengan Sensor Kamera Canggih dan Baterai Jumbo yang Dinanti
Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bandung, hujan ekstrem ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor dinamika atmosfer. Penguatan aliran udara yang mengandung banyak uap air dari Samudra Hindia yang masuk melalui Selat Sunda, serta didukung oleh aktivitas siklon tropis di kawasan sekitar Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kondisi ini. Selain itu, pengaruh angin musim dari arah selatan dan kondisi La Niña yang masih lemah – yang meningkatkan konsentrasi uap air di wilayah Jawa – juga turut memperkuat potensi terjadinya hujan dengan intensitas tinggi. BMKG memberikan peringatan bahwa kondisi cuaca ekstrem diperkirakan akan terus berlanjut hingga tanggal 30 Januari 2026, dengan wilayah bagian selatan dan tengah Jawa Barat termasuk dalam kategori peringatan “awas” untuk hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem.
