Pasar Pasalaran Tetap Ramai Di Tengah Persaingan Online – Video

Pasar Pasalaran Tetap Ramai Di Tengah Persaingan Online
0 Komentar

Kondisi Pasar Pasalaran masih terpantau ramai oleh pengunjung. Meski menghadapi persaingan dengan perdagangan online dan maraknya pedagang di luar area pasar, aktivitas jual beli di pasar terbesar di wilayah tiga ini terbilang signifikan. ‎

Pasar Pasalaran Kabupaten Cirebon masih terlihat ramai dikunjungi masyarakat untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Meski saat ini marak perdagangan online dan pedagang di luar area pasar, namun aktivitas jual beli masih terbilang signifikan.

Kepala Pasar Pasalaran, Siti Nuraeni Hasanah, menyampaikan bahwa jumlah pengunjung masih terjaga. Meski diakui ada sedikit penurunan akibat persaingan dengan toko online, Pasar Pasalaran dinilai lebih ramai dibandingkan pasar lain yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Cirebon. ‎

Baca Juga:Parkir Bahu Jalan Toserba Memicu Kemacetan & Kesemrawutan – VideoNasdem Lantik Pengurus DPC Kecamatan se-Kab. Cirebon – Video

Dari total sembilan pasar yang dikelola, terdiri dari dua pasar teknikal dan tujuh pasar tradisional. Pasar Pasalaran menjadi yang terbesar dari segi jumlah pedagang dan aktivitas transaksi. Bahkan pasar ini disebut sebagai barometer harga di Wilayah III Cirebon. ‎

Namun demikian, sejumlah pedagang khususnya di sektor fashion atau non-pangan, tidak seluruhnya berjualan secara tetap. Sebagian memilih berjualan secara online dan hanya membuka lapak saat momen tertentu seperti musim kenaikan kelas. ‎

Untuk menjaga kenyamanan, Pasar Pasalaran telah menerapkan sistem zonasi sesuai standar. Terdapat zona basah untuk ikan dan daging, zona pangan kering, serta zona non-pangan seperti pakaian. Seluruh area telah disekat dan diberi penanda yang jelas.

‎ Terkait retribusi, pedagang kios dikenakan biaya lima ribu lima ratus rupiah per hari, pedagang los tiga ribu lima ratus rupiah, dan pedagang lemprakan dua ribu lima ratus rupiah. Pasar Pasalaran termasuk pasar tipe satu, dengan selisih lima ratus rupiah untuk pasar tipe dua. ‎

Kepala pasar juga menyoroti dampak pedagang ilegal di luar area pasar. Menurutnya, sebagian masyarakat lebih memilih berbelanja di pinggir jalan karena dianggap lebih praktis. Pihak pengelola sebenarnya telah mengajak pedagang di luar untuk masuk ke dalam area pasar, namun belum seluruhnya bersambut.

‎ Pengelola pasar berupaya menjaga kualitas dan kesegaran dagangan serta menata area pasar agar lebih menarik bagi pengunjung. Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional di tengah perubahan pola belanja masyarakat.

0 Komentar