Perang, Iran dan AS Apakah Bisa Ikut Piala Dunia 2026? Cek Aturan FIFA Soal Konflik dan Partisipasi

Piala Dunia 2026
FIFA Piala Dunia 2026 (fifa.com)
0 Komentar

FIFA sendiri berharap bahwa Piala Dunia 2026 akan berlangsung dengan aman dan sukses, dan bahwa 48 tim akan bermain di babak grup pada Desember 2025. Selain itu, FIFA berharap konflik di seluruh dunia akan berakhir dengan perdamaian.

“Kami mengadakan undian final di Washington yang mana semua tim berpartisipasi, dan fokus kami adalah pada Piala Dunia yang aman dengan partisipasi semua tim,” lanjut Mattias Grafstrom.

Berdasarkan aturan FIFA, negara yang sedang berkonflik dengan pihak atau negara lain bisa dilarang tampil di ajang resmi FIFA, termasuk Piala Dunia. Hal tersebut terjadi kepada Timnas Rusia yang sampai saat ini masih dibanned oleh FIFA, imbas melakukan serangan militer kepada Ukraina.

Baca Juga:Tabel KUR BRI 2026 Pinjaman 50 Juta, Berapa Cicilan per Bulan hingga 5 Tahun?Daftar Harga Emas Perhiasan Hari Ini 2 Maret 2026, Apakah Harganya Naik Lagi?

Pada Statuta FIFA Pasal 3, menyebutkan bahwa FIFA berkomitmen dalam menghormati segala hak asasi manusia yang diakui secara internasional, dan harus berusaha memajukan perlindungan hak-hak tersebut. Lalu ada Pasal 4 perihal non-diskriminasi, kesetaraan, dan netralitas. Serta Pasal 5 yang mempromosikan relasi bersahabat.

Dengan demikian, Iran maupun Amerika Serikat sejatinya terancam dilarang tampil di Piala Dunia 2026, karena tengah terlibat konflik bersenjata. Akan tetapi pelarangan tersebut tetap bergantung dengan situasi di masa depan, terlebih Amerika Serikat bertindak sebagai tuan rumah.

Sementara itu pihak Iran sedang mempertimbangkan untuk mundur dari keikutsertaan di Piala Dunia 2026. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, menyebut keamanan pemain dan ofisial menjadi prioritas utama.

“Dengan apa yang terjadi hari ini dan dengan serangan dari Amerika Serikat, sepertinya kami tidak bisa menantikan Piala Dunia, tetapi para petinggi olahraga yang harus memutuskan hal itu,” komentar Mehdi Taj, dilansir dari laman Marca.

0 Komentar